Loading...
Showing posts with label Gaya. Show all posts
Showing posts with label Gaya. Show all posts

Warung Kopi Masa Lalu dan Masa Kini di Desa

Add Comment
Dwi Andri YatmoTidak dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia gemar sekali mengonsumsi kopi. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan Indonesia memiliki jenis kopi yang kualitasnya diakui dunia. Dengan kebiasaan orang Indonesia yang menyeruput kopi memutarkan roda perekonomian masyarakat bawah. Banyak dijumpai warung kopi di setiap pelosok Indonesia.
Warung Kopi | Foto : www.kilassumberayu.com
Waktu dulu warung kopi hanyalah warung biasa. Hanya menyediakan meja dan kursi panjang. Mayoritas yang datang juga hanya orang-orang tua. Tidak pernah dijumpai anak-anak ngopi di warung kopi kala itu. Warung kopi masa lalu identik dengan warung nongkrongnya orang-orang tua.

Saat itu kopi instan belumnya sebooming saat ini. Menu andalannya hanya kopi hitam. Kopinya pun rata-rata kopi buatan sendiri. Diproses sendiri. Masih ingat ketika dulu simbah putri membut kopi untuk simbah kakung. Simbah kakung saya memang penyuka kopi. Selepas magrib pasti sudah absen di warung kopi desa sebelah.

Biji kopi dikeringkan. Kemudian disangrai menggunakan wajan tanah liat. Dengan ditambahi potongan jagung atau potongan kelapa. Katanya untuk menambah cita rasa kopi tersebut. Selepas disangrai kemudian ditumbuh menggunakan alu di lumpang. Sampai lembut dan bercampur. Kopi pun siap diseduh.

Repot bin ribet memang. Maklum saat itu kopi sachetan belum begitu semasif sekarang ini.

Warung kopi jaman dulu digunakan sebagai tempat demokrasi. Bertukar pendapat. Mengumpat kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak pro rakyat. Hiburannya pun hanya sebuah televisi tabung atau sebuah radio merk national. Terkadang jika empu warung kopi menyediakan papan catur.

Warung kopi seolah one stop obrolan apapun. Apapun itu. Mulai dari politik, sosial, kehidupan menggarap sawah, sampai obrolan pekerjaan terkadang deal di warung kopi. Semakin banyaknya warung kopi kala itu, semakin mudah para warga untuk mendapatkan akses informasi.
Kopi Hitam | Foto : Nasirullah Sitam
Perkembangan teknologi memang tidak bisa dibendung dengan berjalannya waktu. Penetrasi internet yang mulai merambah perdesaan. Mulai merubah wajah awal warung kopi. Selain itu menjamurnya produk-produk kopi instan yang menjawab tren pasar juga mengambil andil. Pada intinya untuk menikmati segelas kopi sudah tidak perlu repot-repot lagi. Cukup sobek bungkus sachet, tuang air panas.

Warung kopi dulu citranya hanya warung bangunan sederhana. Di pinggir jalan raya bangunan seadanya dengan dinding bilik bambu mentok dinding kayu. Mulai bertansformasi. Warung kopi sekarang bertempat di ruko-ruko. Dengan bangunan yang modern. Menggabungkan konsep cafe.

Dan hal wajib yang harus disediakan setiap warung kopi saat ini. Bukanlah seberapa banyak koleksi kopi yang kalian punya. Seberapa cakap dan pintar si penyedup kopi (baca: barista) menyediakan kopi pesanan. Bukan itu semua. Melainkan wifi dan tempat yang nyaman untuk nongkrong.

Jika dua elemen tersebut tidak dipenuhi, saya yakin warung kopi tersebut bakalan sepi pengunjung. Generasi millenial sekarang ini tidak peduli seberapa enak tidaknya kopi yang mereka minum. Mereka bakalan menjawab sama.

Bahkan sebuah warung kopi ditandai layak atau tidaknya. Ramai atau tidaknya. Bukan dari segi rasa kopinya. Melainkan seberapa cepat koneksi wifinya.
Wifi sudah jadi fasilitas wajib | Foto : ruangshare.files.wordpress.com
Tidak heran warung kopi sekarang ini lebih didonimasi oleh anak-anak muda. Pesan, cari tempat duduk kalo bisa dekat colokan stop kontak, bergelit dengn smartphone mereka masing-masing.

Marwah warung kopi masa lalu sebagai tempat bersosialisasi. Bercengkerama dengan masyarakat lainnya mulai hilang. Mereka lebih sibuk dengam gadget mereka. Menghiraukan keadaan sekitar.


Warung kopi yang dulu jadi tempat demokrasi masyarakat bawah. Sudah jarang kita jumpai di kota-kota besar. Hanya ada beberapa yang masih memegang marwah tersebut. Itupun ada di pinggiran kota. Di pedesaan. Meskipun juga tidak banyak.

Tradisi Ambengan di Bulan Maulud

Add Comment
Dwi Andri YatmoSenja itu hujan masih enggan berhenti. Tetapi tidak menyurutkan ibu-ibu dan anak kecil untuk datang ke mushola. Sembari membawa baskom yang dibungkus dengan taplak meja. Kami biasa menyebutnya ambengan.

Selepas sholat Magrib, ibu-ibu lainnya berdatangan. Ya. Malam ini kami akan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Atau orang Jawa menyebutnya Muludan atau Mauludan. Hanya beberapa bapak-bapak saja yang datang. Sedangkan mayoritas yang memenuhi mushola adalah ibu-ibu. Dari yang jamaah sholat sampai yang tidak pernah datang ke mushola. Berkumpul jadi satu ngalab berkah.
Maulid Nabi | Foto: Didik Setiawan
Bulan Maulud selalu identik dengan bacaan sholawat baik di mushola maupun masjid. Yang berbeda dari mushola kami adalah masalah mulainya kegiatan berjanji. Berjanji sebenarnya keseleo lidah dari kata barzanji. Di mushola atau masjid lainnya kegiatan berjanji mulai dilakukan dari tanggal 1 Maulud. Sedangkan di mushola kami, ini juga instruksi dari Pak Yahya selaku kyai mushola, berjanji dilakukan mulai tanggal 12 Maulud bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seperti biasa Pak Yahya memberikan ceramah tentang kelahiran rasulullah saw. Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya ingin menyerbu Ka'bah di Mekkah. Tetapi malah hancur lebur karena serangan burung Ababil yang membaca batu dari neraka. Saat itu pulalah nabi akhir zaman dilahirkan.

Dari tahun ke tahun jamaah laki-laki di mushola selalu sedikit. Padahal dulu sewaktu saya kecil jamaah perempuan yang sedikit. Mungkin benar adanya, bahwa jumlah perempuan itu lebih banyak dibandingkan laki-laki.

"Barangsopo sing gelem sodakohke dalam perayaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, meski kuwi mung sak jumput misale. Bakalan diganti segede gunung Ukud," kata Pak Yahya menutup sesi ceramahnya.

Kemudian para jamaah semua berdiri membaca srokolan. Sudah lama sekali saya absen dalam kegiatan berjanji. Ingatan saya kembali ke puluhan tahun ke belakang ketika selesai sholat magrib bersemangat memegang mik untuk berjanji. Sampai kadang suara habis dan serak karena begitu semangatnya. Itu semua akan terobati dengan jajanan atau penganan yang akan kita terima setelahnya. Sungguh sederhana bukan.

Malam ini, seolah saya dilempar kembali ke masa itu. Aku lengkingkan suara untuk membaca ayat srokolan. Serak dan fals tidak jadi soal. Toh ini bukan kontes nyanyi. Suara habis juga bukan masalah. Itu semua bisa diobati dengan lahap ambengan yang dibawa. Sekali lagi, masih sesederhana itu.

Selesai Pak Yahya membaca doa. Aamiin. Anak-anak dan ibu-ibu antusias membuka baskom yang dibawanya. Kebanyakan membawa nasi berserta lauk pauknya. Ada juga yang membawa jajanan pasar atau penganan buatan sendiri. Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu. Saling jumput atau ambil makanan milik lainnya yang dianggap enak. Bahkan tidak jarang sebelum berangkat sudah ditandai mana-mana yang bawa makanan enak. Padahal enak tidaknya itu bukan persoalan penting, kebersamaanlah yang membuat semuanya seolah nikmat.


Inilah yang sebenarnya dibutuhkan. Kebersamaan. Meskipun kebersamaan seperti ini tidak bisa selalu kita jumpai. Tetapi inilah rahmat bulan Maulud. Rahmat bulan kelahiran Rasulullah SAW. Dengan tanpa mendeskritkan bulan-bulan lainnya. Inilah yang sesungguhnya dirindui, dikangeni oleh manusia. Saling berkumpul.

Musik Segala Lapisan

Add Comment
Dwi Andri YatmoBicara musik dangdut tidak akan ada habisnya. Karena menurut Bang Haji Rhoma Irama, musik dangdut adalah musik asli Indonesia. Walau sebenarnya ada unsur-unsur dari luar. Tetapi entah mengapa musik dangdut masih dipandang sebelah mata. Ada lho orang yang tidak suka medengarkan musik dangdut.

"Ini musik apa? Ganti-ganti!" Ada yang kayak gitu.

Kita tahu bahwa itu hak setiap orang. Hak untuk menyukai genre musik tertentu. Dan itu tidak bisa kita paksa. Misal kita sudah dangdut, pacar kita juga harus suka dangdut. Bagaimana pun caranya. Seperti itu yang tidak diperbolehkan.
Suasana Dangdut Panggung | Foto : omclassic.com
Kalau kita tengok ke desa musik dangdut seolah mendapatkan tempat istimewa. Mungkin jika diadakan survei atau kuisioner tentang genre musik apa yang paling disukai. Dangdut menempati posisiii teratas. Dangdut seolah mewakili kehidupan orang bawah. Terlepas karena lirik-liriknya yang menceritakan kehidupan sehari-hari. Serta alunan musiknya yang rancak dan bisa membuat orang menggerakkan tubuhnya sekadar bergoyang.

Ibarat rantai makanan dalam pelajaran IPA sewaktu SMP, dangdut itu menempati posisi paling atas sendiri. Musik ini paling bisa menyesuaikan tren pasar. Paling dinamis daripada jenis musik-musik lainnya.

Lagu pop bisa dibawakan versi dangdut. Tapi belum tentu lagu dangdut bisa dibawakan ke versi pop.
Lagu jazz? Bisa.
Lagu rock? Itu apalagi, bisa.
Lagu hiphop? Kecil
Lagu reggae? Tidak masalah
Lha wong lagu sholawat saja bisa dibawakan ke versi dangdut.

Jadi jangan heran bahwa di desa-desa masih begitu kental dengan musik dangdut. Tengok saja setiap kali ada acara dangdut panggung dimana pun itu, pasti akan selalu ramai. Maka tidak heran Musik Orkestra tumbuh subur di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Sebut saja Sera, Monata, New Pallapa, Sagita dan masih banyak lagi.

Fans dari masing-masing musik orkestra tersebut juga bertebaran. Sebut saja Sera Mania, fansnya OM Sera.  Sahabat New Pallapa (SNP), fansnya OM New Pallapa. Kenapa mereka bisa eksis? Pertama karena musik dangdut musik yang menggembirakan. Musik yang bisa untuk berjoget bersama.
Kerusuhan yang terkadang tidak bisa dihindarkan | Foto : cinmi.com
Kedua, faktor dari para penyanyinya. Jangan heran kalau para penyanyi dangdut selain ditunjang suaranya yang aduhai enaknya. Juga ditunjang paras cantik dan tubuh yang sintal. Kalian pasti familiar dengan nama Via Vallen, Nella Karisma, Wiwik Sagita, dll. Mereka itu salah satu daya tarik para fans untuk selalu datang ketika manggung.

Toh banyak orang mencibir musik dangdut adlaah musik kampungan. Musik ndeso. Musik kelas bawah. Tapi bagi kami musik dangdut adalah anugerah yang tidak bernilai. Karena dari dangdut kita bisa memiliki pertemanan yang banyak. Kita bertemu dengan orang-orang baru. Terciptanya relasi atau jaringan pertemanan.

Tetapi sekali lagi, kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada oranglain. Kalau oranglain tidak suka dangdut, ya silakan. Asal jangan menjelek-jelekkan satu sama lain.


Salam dangdut!! Salam Puinuk

Meminimaliskan Tampilan Yang Baru

Add Comment

Dwi Andri Yatmo - Halo sobat Catatan Kecil Anak Petani dimana pun Anda berada. Sudah luama sepertinya tidak menyapa di blog ini, hehe. Sudah memasuki tahun baru 2018. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat tahun baru. Yah, meskipun sudah terlambat. Kan daripada tidak.

Kali ini saya akan membahas tampilan blog ini. Pasti yang pernah membaca apalahi sering baca (uhuukk) blog ini mengernyitkan dahi. Kok ya tampilannya berubah-ubah mulu. Kayak bunglon saja. Tetapi memang akhir-akhir ini saya bereksperimen (ceileeehh) dengan tema blog ini. Masih mencari-cari mana sekiranya tema yang pas di hati saya.

Akhirnya di tahun 2018 ini saya memutuskan untuk memakai tema Vienna dari Arlinadesign. Ya seperti yang kalian lihat sekarang ini. Semoga saja bisa membuat para pembaca betah dan nyaman. Kenyamanan Anda adalah prioritas kami, haha. 

Perubahan Menu Kategori
Selain tema yang saya ubah. Ada juga beberapa perubahan tampilan yaitu menu kategori. Kalau selama ini saya menggunakan 8 - 9 kategori. Setelah saya bertapa beberapa hari dan merenungi kehidupan. Saya putuskan untuk merombak juga. Mana-mana kategori yang harus saya hilangkan dan kategori apa yang bakalan saya berikan di blog ini.

Untuk menu Akal Hati Nafsu, Cerita akan saya pertahankan. Dik, kategori ini lumayan saya sukai. Termasuk kamu juga lho. Sedangkan cerpen akan saya lebur jadi satu di kategori cerita.

Menu Sebelumnya | dwiandriyatmo.id
Menu Sebelumnya | dwiandriyatmo.id
Lantas kategori sisa akan saya lebur ke menu Kuliner dan Gaya.

Mengapa Kuliner?
Sebenarnya saya pernah memiliki project blog mengenai kuliner. Khusus kuliner. Yaitu Puinuk.com. Tetapi setelah saya pikir-pikir blog tersebut lama tidak terurus sama halnya di blog ini. Akhirnya dengan memikirkan keefisienan dan keefektifan saya jadikan kategori saja di blog utama saya ini.

Wong ya saya juga suka hunting-hunting kuliner meski tidak sering.

Sedangkan untuk Gaya. Akan merangkum kategori sebelumnya yaitu Hal Baru, Kerja, Pengalaman, Pribadi dan Umum. Saya satukan menjadi kategori Gaya. Lantas apakah nantinya ketika ada tulisan yang di luar kategori yang ada dimasukkan kemana? Ya dimasukkan ke kategori Gaya saja.

Yah mungkin demikian pemberitahuan yang tidak penting ini saya sampaikan. Bahwa di tahun 2018 ini saya memutuskan untuk melebur blog kuliner sebelumnya di sini. Dan meleburkan beberapa kategori agar lebih minimalis dan memberikan kenyaman dalam membaca cerita di sini yang pada dasarnya tidak ada pesan moralnya.
Menu Sesudahnya | dwiandriyatmo.id

Terima kasih sudah mau mampir ke sini.

Salam Bahagia!!

Perihal Melamar Pekerjaan

Add Comment
Perihal Melamar Pekerjaan_dwiandriyatmo.id
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dimintai bantuan oleh atasan untuj menghandle lowongan pekerjaan salah satu bagian di kantor. Saya bagian menyortir mana-mana pelamar yang layak diwawancarai. Adalah sekitar 50-an lamaran yang masuk di email.

Generasi millenial saat ini memang selalu berpikiran praktis, cepat dan instan. Saya harus prihatin terhadap etika atau tata cara mereka memasukkan lamaran meskipun sebatas lewat email. Kalau lewat tulisan tangan pasti semua sama. Di sinilah letak seni dalam menilai seorang pelamar itu harus dihubungi atau tidak.

Mungkin ini bisa dipakai untuk para kawan-kawan yang biasa memasukkan lamaran via email. Ada lho etika mengirimkan email lamaran. Sedangkan yang saya temui hampir semua tidak memudahkan tugas para HRD melainkan menambah pusing dan geleng-geleng kepala. Meskipun terkadang juga membuat tersenyum jika menjumpai hal-hal yang seharusnya tidak terjadi tetapi kita jumpai.

1. Mengosongkan Subjek Email
Hampir rata-rata para pelamar pekerjaan tidak menuliskan subjek di emailnya. Kalau diibaratkan subjek itu sebagai penunjuk arah dari email itu sendiri. Apa to isi email Anda? Baiklah itu email lamaran pekerjaan tapi hambokyo diisi. Mereka beranggapan toh ya para HRD tahu kalo itu lamaran. Heloo nona-nona, jika kalian mengisi itu subjek email berarti kalian memudahkan para penilai dan jadi salah satu jalan masuk untuk membuka email tersebut.

Tentu sakit bukan, kita sudah capek-capek ngirim email tetapi didiamkan. Diklikpun tidak, apalagi dibaca. Jadi ingat, isi subjek email, bisa dengan "Lamaran Pekerjaan PT ABC Bagian Apalah Gitu." Bolehlah hati kalian itu kosong, laiknya jomblo di luaran sana. Tapi pliss kalo melamar gawean subjek email jangan dikosongin kayak hatimu itu!

2. Membiarkan Badan Email Kosong
Ini penyakit selanjutnya. Subjek email kosong ladalah badan email juga kosong. Maunya apa coba ini pelamar. Ngajakin gelut? Kebanyakan para pelamar mengirimkan file dalam bentuk zip atau rar sudah cukup. Duh Gusti paringono sangar.

Ibarat awalnya sudah tidak ada penujuk arah, pengantar pun juga tidak ada. Hanya diberi file kompresan. Inilah kesalahannya. Sebaiknya dalam badan email digunakan sebagai pengantar bahwasanya kalian hendak melamar pekerjaan. Atau bisa juga digunakan untuk menuliskan surat lamaran pekerjaan itu sendiri. Lantas file pendukung seperti CV dan tetek bengek lainnya dilampirkan.

Sudah to, sadar, kalau badan email itu wajib diisi. Ya kayak kamu itu perlu diisi perhatian dan kasih sayang.

3. Melampirkan File Ngaudubillah Ukurannya
Seperti yang saya singgung di atas. Para pelamar suka melampirkan file yang bentuk kompresan. Syukur-syukur filenya kecil, terkadang itu filenya mengalahkan file HD JAV, hahaha bercanda kok.

Kalau untuk saya pribadi masalah file lampiran pendukung ada baiknya di lampirkan satu-satu. Ribet aja harus ekstrak itu file kompres. Ini hanya pendapat saya. Pendapat oranglain tentu beda. Mungkin ada baiknya file CV, ijazah, riwayat hidup dan lain sebagainya jadikan satu file pdf. Tidak perlu repot-repot upload file satu-satu. Jika kalian memudahkan pekerjaan HRD, tentu kalian akam dimudahkan juga dipanggilnya. Ahayyy

4. Kurangnya Dalam Membranding Diri Yang Menyentuh Emosi
Maksudnya apa ya? Jadi begini sodara-sodara, seringkali ketika menuliskan tentang biodata diri kita selalu mengikuti pakem"saya lahir tiga bersaudara. Saya nomor lima. Saya sekolah di anu bla bla bla..."

Di sinilah letak kesalahan dalam membranding diri. Poin utama dalam sebuah lamaran adalah menarik perhatian. Tariklah perhatian para HRD agar mereka menghubungi kalian. Tulislah apa-apa yang menjadi sisi positif kalian yang sekiranya relevan dengan posisi yang hendak di lamar. Dan jangan terlalu dilebih-lebihkan atau lebay.

Sederhana tapi kalian banget, contoh misal "saya orangnya menjunjung tinggi kejujuran. Karena ketika dulu kuliah atau sekolah diajarkan makna sebuah kejujuran di pelajaran akhlak agama."

Jika kalian bisa menyentuh sisi emosial para HRD. Kemungkinan besar kalian akan dimasukkan ke kelompok yang harus dihubungi untuk tes selanjutnya.

Mungkin hanya itu sedikit saran kepada teman-teman yang masih berjuang mencari pekerjaan. Hidup itu tidak harus jadi pencari pekerjaan. Menjadi pengusaha malah lebih enak dan menyenangkan. Tetapi sekali lagi semua rejeki datangnya dari Allah. Kita hanya perlu berikhtiar, berdoa dan bertawakal. Saya juga tidak bermaksud merasa paling pintar dalam hal lamar-melamar. Toh sering juga ditolak ketika memasukkan lamaran pekerjaan.


Melamar pekerjaan mungkin sulit. Lebih sulit kalau ditanya "aku mbok lamar kapan mas? Wis kesel aku ngenteni."

Modyarr. Mak klalep.

Menjadi Kakak Yang Sebaik-Baiknya

Add Comment
Menjadi Kakak Yang Sebaik-Baiknya_dwiandriyatmo.id

"Mas tukoke hape."

Begitu sms yang masuk di hape saya. Sms tersebut dari adikku semata wayang.

"Hape opo dik?" Balas smsku

"Hape xiaomi mas."

Sejenak saya terhenti untuk segera mengetik pesan balasan.

"Iyo. Akhir bulan yo nak mas gajian."

Jawaban diplomatis yang tentu akan digunakan tidak hanya saya jika di dalam posisi tersebut. Seketika saya teringat kembali beberapa tahun ke belakang. Ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu saya minta kakak untuk dibelikan hape nokia. Karena minta ke bapak ibu, takut semakin menambah beban ekonomi.

Akhirnya saya dibelikan hape nokia 6030 warna hitam. Baru. Gres. Buka dos. Harganya 600 ribu. Nominal yang terhitung banyak waktu itu. Apakah kakak saya bilang tidak atas permintaan adiknya saat itu? Tidak. Dia hanya berjanji akan membelikan saat ada rejeki.

Mungkin perasaan dan apa yang dirasakan kakak saya beberapa tahun lalu seperti yang saya rasakan saat ini. Bagaimana tega seorang kakak menolak permintaan adiknya. Yang menganggap hanya dialah yang bisa dimintai permintaan. Kenapa tidak minta bapak ibu? Sekali saya tekankan, beban ekonomi keluarga lebih penting tercukupi daripada harus dialokasikan ke hal-hal yang tidak begitu penting. Salah satunya hape.

Menjadi saudara paling tua dan secara tidak langsung juga menjadi tulang punggung keluarga tidaklah mudah. Momen tersebut sudah kakak saya lalui. Dengan menikahnya dia, berarti tampuk tanggungjawab tersebut beralih posisi. Siap tidak siap, mau tidak mau harus dipikul tanggungjawab itu.

Saya terlahir dari tiga bersaudara. Dilihat darinya pasti sudah tahu bahwa saya anak nomor dua. Ndilalah semua saudara saya adalah laki-laki. Padahal konon dulu Bapak kepengen banget punya anak berjenis kelamin perempuan. Tetapi Gusti Allah lebih memberikan anak laki-laki daripada perempuan.

Apakah saya sudah menjadi kakak yang baik? Belum. Masih banyak yang belum bisa saya berikan ke adik dan keluarga. Menjadi seorang kakak yang sebaik-baiknya. Menjadi kakak yang bisa dibanggakan adik-adiknya. Menjadi abang yang senantiasa melindungi adik dan keluarganya. Semua itu belum bisa saya wujudkan.

Setidaknya mewujudkan apa yang diminta oleh adiknya adalah sebuah langkah awal semoga saya bisa menjadi kakak yang baik dan anak yang bisa membahagiakan kedua orangtuanya. Sudahkah kalian menjadi abang, mbakyu, kangmas yang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya di hadapan saudara kalian? Bahwasanya kita hidup hanyalah menggantikan peran oranglain. Dulu kita bisa minta apa saja ke kakak kita. Mungkin beberapa tahun kemudian giliran kita yang dimintai apa saja oleh adik-adik kita.

Berbahagialah bagi mereka yang sudah menjadi kakak yang baik. 

Perihal Hadiah Ulang Tahun

Add Comment
Pernah dapat hadiah ulang tahun? Hadiah spesial dari orangtua, sahabat atau pacar misalnya. Dalam hal beginian mungkin kaum Hawa yang sering mendapatkan. Paling sederhana kue, coklat, bunga atau mentok boneka. Untuk kaum Adam mungkin ada yang juga pernah tetapi tidak sesering kaum Hawa.

Saya pribadi pernah mendapatkan hadiah ulang tahun dari seseorang (baca: mantan). Itupun juga ulangtahun tiga tahun terakhir ini. Sebelum-sebelumnya bagai padang pasir kering kerontang. Ingatpun tidak mereka dengan hari kelahiran saya menyapa dunia.

Kebetulan hari kelahiran saya berada satu slot dengan bulan Kasih Sayang kata orang bule sono. Ya meski tidak tepat-tepat amat dengan tanggal 14. Mungkin itulah yang membuat saya memiliki rasa kasih dan sayang begitu melimpah. Sayang kepada orangtua, sudah tentu pasti. Sayang saudara, off course. Sayang sahabat, yoi. Sayang mantan, eh.

Kembali lagi ke persoalan hadiah ulangtahun. Saya akan jabarkan beberapa benda hadiah yang pernah saya terima ketika ulangtahun.

1.  Jam Tangan
Benda inilah hadiah yang pertama saya terima seumur hidup ketika ulang tahun. Itupun juga yang memberikan sudah menjadi mantan dan sudah menikah pula. Ceritanya jam tersebut couple-an kalo kata anak muda kekinian. Entah jam satunya masih dia simpan atau sudah dikilokan di tukang rosok. Itu sih hak dia.

Mungkin ketika dia memberikan hadiah tersebut sembari memberikan sebuah tanda, ‘waktu kebersamaan kita hanya tinggal menghitung hari.’ Modyar kowe. Masalahnya aku yang tidak peka. Mungkin lho ya.

2. Sarung dan Baju Koko
Sebenarnya jumlah sarung dan baju koko di rumah sudah banyak, meski tidak banyak-banyak mamat juga. Ini adalah benda kedua pemberian dia. Karena setelah pemberian ini, dia sudah memutuskan untuk merajut masa depan dengan pria lain. Sa’ake men kowe Le, Le!

Dan apa kata motivasi terakhir yang dia ucapkan? Itu pun dia kirim lewat sms. ‘Semoga bisa menjadi imam untuk wanita yang lebih baik dari saya.’

Kan telo tenan to. Hambok doa qunut wae kadang apal kadang ora je. Isih grotal gratul.

3. Baju dan Sandal Joger
Hadiah yang ketiga adalah sebuah baju joger dan sandal joger (seumur-umur cuma waktu SMA ke Bali, itupun juga tidak beli apa-apa). Dari seseorang yang menempati tempat istimewa di hati ini, cieee cieeee. Sandalnya sampai sekarang pun belum pernah aku pake. Eman-eman je!!

Menurut saya pribadi, ketika acara ulang tahun yang terpenting bukan masalah hadiah apa yang diterima. Tetapi yang paling sakral adalah ketika meniup lilin di atas kue. Itu awesome banget. Sakral, suci dan aaaahhhh…..pokoke kuwilah.

Dan sialnya seumur hidup belum pernah sekalipun, saya camkan belum pernah sekalipun, diberi sureprise sembari dibawakan kue tart atau blackforest dengan lilin menyala. Seperti di film-film romantis begitu, atau seperti teman-teman lainnya. Blas ora pernah. Mesake kuadrat kowe Ngger Ngger!

Padahal ketika teman wadon ultah, sekadar memberikan sureprise juga ikut terus. Lha kok giliran saya babar blas sureprise ememper sih ora penting marai. Tidak dikasih hadiah pun juga tidak mengapa, asal dikasih sureprise kue yang ada lilin menyalanya. Gak ada kue cuma lilin juga tidak masalah. Hambok trimo jenang abang tengahe diwenehi lilin putih, wis suenenge ora umum. Asal ora liline babi ngepet wae.

Tapi kok ya hanya khayalan semata. Semoga saja calon istri saya membaca tulisan ini. Semoga saja ya Allah! Aamiin.

Drama Kehidupan

Add Comment
Kemarin ketika tiba di bandara, saya disajikan penggalan adegan telenovela. Lha bagaimana tidak? Ada seorang wanita pribumi memeluk cowok non-pribumi sembari sesenggukan menangis.
Dan saat itu saya disadarkan bahwa drama itu ada di dalam kehidupan. Tidak hanya drama Korea saja. Dalam diri kalian itu juga ada drama. Tinggal apa yang bisa memantik jiwa drama kalian muncul ke permukaan. Camkan itu, kisanak.

Jadi tak elok rasanya mencibir atau mengucilkan seorang pria tontonnya Drama Korea. Bukan. Bukan. Ini bukan sebuah pembelaan.
Kembali lagi ke pasangan sejoli yang tidak mengindahkan perasaan para jomblo di bandara itu. Bedebah memang. Saya pun menghentikan kaki untuk check in. Mengamati dengan saksama adegan langka bin jarang-jarang yang saya jumpai. Biasanya hanya ada di film-film ataupun drama.
Siapa yang tidak menebak-nebak asal muasal penyebab kejadian tersebut. Ndilalah kok ya oatakku juga tidak mau ketinggalan menebak. Jiangkrik og. Tapi ya mau gimana lagi, itu sudah jadi kebiasaan kita untuk ikut campur dalam urusan oranglain. Alasannya satu dan lain hal.
Pertama, si cowok albino itu hendak meninggalkan Indonesia. Ya iyalah. Pasti juga tebakannya gitu. Eh sama to, hehe. Kalau menangis yg sampai menyebabkan sembab di mata. Bisa diperkiraan bahwa si bule badjingan yang telah mengoyak hati cewek cantik kembali ke habitat asal dan tidak akan kembali ke sini dalam waktu yang lama. LDR tingkat tinggi, dipisahkan benua dan lautan.
Setidaknya si mbak itu masih bisa berkomunikasi. Ada lho yang LDR tingkat dewa. Tingkat mantap juiwa. LDR yang dipisahkan dunia. Dipisahkan alam.
Ingin saya nyeletuk, "Kalau bulenya pulang tenang Dinda masih ada Kanda di sini!"
Kedua, mereka berdua putus hubungan. Bisa karena si cewek tidak mau LDR. Atau si albino yang tidak mau LDR. Jadi sebagai perpisahan mereka melampiaskan dengan adegan berpelukan. Menangis pula. Bulenya juga tidak bereaksi apa-apa. Mengelus-elus rambutnya pun tidak. Membalas pelukan si cewek juga boro-boro. Sialan memang. Beda kalau saya yang dipeluk #ngarep.
Ah sepertinya saya terlalu banyak mengkhayal tentang hubungan dua manusia beda ras tersebut. Biarlah mereka melakukan apa yang mereka anggap benar. Toh setidaknya kita juga disuguhi sebuah cuplikan drama kehidupan.
Jangan sok suci, itu tidak elok karena kita budaya timur. Tabu kalau di tempat umum. Emang kalau di tempat sepi kalian mau ngapain saja? Kita terkadang menganggap diri sendiri paling suci. Paling bersih. Paling benar. Dan menganggap orang lain berdosa semua. Kita lupa bahwa kita semua ini tercipta dari tanah semua. Kenapa kudu sombong? Bisa jadi drama kalian yang nantinya ke permukaan. Yang akan kalian sajikan ke khalayak umum tanpa disadari.
Sudah. Sudah. Kita akhiri saja sampai di sini. Saya langkahkan kaki ke tempat check in tiket. Berbahagialah bagi mereka yang selalu mendoakan pasangannya satu sama lain. Bahwa doa itu sebuah wujud cinta yang paling hakiki.
Tabik.

Selamat Datang di Markas Kecil

Add Comment

Manchester United memiliki markas Old Traffod. Real Madrid memiliki Santiago Bernabeu. Barcelona memiliki Camp Nou. Arsenal memiliki Emirates Stadium. Ini membuktikan bahwa untuk besar haruslah memiliki tempat atau markas. Sebagai jujukan. Sebagai tempat untuk melatih dan berlatih kemampuan. Dan sebagai ajang pembuktian duel melawan realita. Haissahhh, ini ngomong apa sih.

Didasari itulah akhirnya dengan kemampuan seadanya, saya membangun sebuah markas kecil untuk sekadar kongkow atau ngobrol dengan santai. Tidak luas sih hanya bedeng berukuran 2,5m x 2,5m. Itupun masih numpang di emperan rumah kakak. Abaikanlah semua keterbatasan tersebut. Dengan desain counter tentuny. Lha mbokyo ngomong nak konter, ngunu wae repot.
Markas Kecil Tampak Depan 

Sebenarnya itu hanya opsi kesekian kali. Biar markas ini dilihat orang. Dan juga membantu para tetangga dalam hal menyediakan jasa pengisian pulsa dan sebangsanya. Yang paling utama sih untuk tempat berimajinasi ria. Melatih kemampuan dalam menulis. Dan tak lupa sebagai tempat pelarian jikalau sedang galau atau sebagainya, hehehe.

Sebagai pelengkap markas ini adalah mural tulisan yang tertuang di dalam setiap inchi dinding karsibot. Saya persilakan semua orang yang memiliki unek-unek dan motivasi untuk menuangkannya di dinding. Penampakannya seperti di bawah ini.
Markas Tampak Samping
Tulisan yang selalu bikin baper, duh siapa yang nulis ini!
Tulisan Pintu Depan
Tulisan Pintu Depan 2
Rak Buku untuk sekadar memuaskan nafsu membaca

Coretan Anak-anak yang tidak bertanggungjawab

Semoga markas ini memberikan pencerahan kepada saya bahwa hidup itu butuh perjuangan yang keras. Bahwa untuk sukses itu perlu proses, tidak ujug-ujug ada di depan mata. Dan tentunya jikalau ada rekan yang mau mampir monggo. Kita bercengkerama santai masalah hidup atau tema lainnya. Dengan bantuan secangkir kopi tentunya. Agar suasana semakin intim dan gayeng.