Loading...
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Kenapa Spanduk Warung Pecel Lamongan Menggunakan Kain

Add Comment

Dwi Andri Yatmo - Gerimis belum beranjak sejak sore tadi. Rasanya enak bermalas-malasan di kamar kos-kosan sambil bermain Mobile Legends atau AOV (siapa tahu ketiban pulung dapat 7 M). Tapi perut sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Walhasil, meski gerimis masih awet, saya pergi menyusuri sekitar jalan Hasanudin untuk mencari makan.

Sebelumnya, di Jalan Hasanudin, dulu saya pernah menulis tentang Soto Barokah Pak Slamet dan Nasi Goreng Padang.
Kendaraan masih berlalu lalang di jalan yang terdapat genangan air di beberapa sudutnya. Kondisi ini kadang membuat pejalan kaki kecipratan air oleh kendaraan yang tidak punya etika. Bedebah memang.
Perjalananku mencari makan akhirnya terhenti di sebuah warung pecel lele. Laiknya warung-warung khas Lamongan yang memajang spanduk besar, Warung Podo Nduweni Lamongan “Abdul Rozak” Nasi Uduk persis tak berbeda. Panjang nian nama warungnya, batinku. Letaknya di depan gedung Primagama Hasanudin.
Warung ini menggunakan gerobak dengan tenda orange. Mencolok memang. Tempatnya diapit antara dua pohon angsana besar. Sementara sebelahnya, terdapat tempat lesehan meski tidak besar.
Sudah bisa ditebak dari namanya, menu andalan Warung Podo Nduweni adalah nasi uduknya. Tentu saja warung ini juga memberikan pilihan nasi biasa bagi mereka yang tidak begitu suka nasi uduk seperti saya.
Saya harus menunggu beberapa menit sampai lauk pesanan saya selesai digoreng. Tempat lauknya dipisah menggunakan cowek. Tempat yang biasa emak gunakan untuk sambel.



Lele + Sambel Sedeng
Lele + Sambel Sedeng | © Dwi Andri Yatmo

“Sambelnya piye Mas, pedes atau sedeng?”
Lagi-lagi saya ditanya perihal sambel. Warung Podo Nduweni menyediakan dua jenis sambel. Bagi mereka yang suka pedas, bisa memilih sambel pedas. Sambel yang menurut saya disebut sambel brambang. Sedangkan bagi yang tak suka pedas, ada sambel trasi yang ditambahi kacang tanah. Kalian juga bisa memadukan dua jenis sambel ini.
Seorang bapak-bapak sibuk membantu menggoreng lauk-lauk pesanan pembeli. Sepertinya suami dari ibu-ibu tadi. Mungkin dia yang bernama Abdul Rozak, selaku pemilik.
Di luar gerimis belum berhenti. Lauk, nasi dan teh anget sudah siap disantap. Kursi sudah mulai kosong.
“Kok nama warungnya Warung Podo Nduweni Bu?” Saya bertanya pada ibu pemilik warung.
“Saya sudah berjualan di sini puluhan tahun, Nang,” beliau memanggil saya dengan sebutan Nang. Bagi orang kampung, Nang singkatan dari anak lanang. Sapaan untuk mengakrabkan diri.
“Ya warung ini juga warung mereka juga. Podo nduweni, sama-sama memiliki. Antara penjualnya dengan pembelinya. Kalau mereka tidak merasa memiliki di sini mana mau mereka membeli dan langganan, hehehe.” Saya ikut tersenyum. “Intinya saling memiliki. Saya dan mereka (pembeli) sama-sama memiliki warung ini”.



Menu Lauk
Menu Lauk | © Dwi Andri Yatmo
Menu Lauk
Menu Lauk | © Dwi Andri Yatmo

Oh iya, saya sampai lupa menceritakan menu-menu lauknya. Warung pecel ini menyediakan beberapa menu antara lain bebek, ayam, kepala ayam, ceker ayam, burung dara, rempelo ati, lele, bandeng presto, gurame, mujair, dan pindang (gereh). Ditambah pete dan terong sebagai lalapan tambahan.
Saya bertanya tentang rasa penasaran saya: kenapa hampir setiap warung lamongan memakai spanduk kain dengan tulisan yang dilukis. Anggap umumnya seperti itu.
“Spanduk seperti ini dipakai sebagai ciri khas warung Lamongan, Jawa Timur. Ibarate sebagai identitas bagi warung Lamongan satu dengan lainnya.”
Oh begitu, berarti penggunaan spanduk yang seragam inilah yang dijadikan sebagai identitas mereka. Mungkin bagi pecinta bola Indonesia, tak asing jika para suporterPersela Lamongan, LA Mania, membawa atribut dengan tulisan Warung Pecel Lele Lamongan. Ya, siapa tahu ke depan warung pecel lamongam bisa tersemat di kaos punggawa Persela. Kan eksotik.
“Itu yang bantu-bantu jualan siapa Bu?”
“Oh itu ponakan-ponakan di kampung, Nang. Saya mintai tolong bantu-bantu di sini. Daripada mereka di kampung tidak sekolah mending saya ajak kerja di sini. Daripada nganggur di kampung.”
Ini yang selalu saya suka dari para pengusaha. Mereka mendirikan usaha bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kemaslahatan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Salah satunya menyediakan lapangan pekerjaan. Mengangkat derajat perekonomian bersama.



Bu Abdul Rozak, selaku pemilik warung
Bu Abdul Rozak, selaku pemilik warung. | © Dwi Andri Yatmo

Saya teringat unen-unen Jawa: “urip itu urup”. Hidup itu bisa menerangi kegelapan sekitarmu. Bermanfaat untuk sesama. Jadi, sukses bukan masalah seberapa banyak kamu punya harta. Tapi seberapa banyak kamu bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitarmu.
Oh iya, jika kalian ndilalah kok ya lagi selo mampir di Semarang tak ada salahnya mampir ke sini. Selain banyak menu yang tersedia, masalah harga juga masih wajar kok, terjangkaulah untuk anak-nak mahasiswa juga. Yang sedang pedekate sama gebetan tak ada salahnya coba ajak makan ke sini. Ya, siapa tahu setelah ngemplok sambel di sini kebimbangannya hilang dan langsung menerima kamu sebagai teman terbaiknya. Saya jamin itu, asal kalian mampir ke sini ngajak saya juga haha.
Warung Pecel Podo Nduweni buka mulai jam 5 sore sampai habis.
Agaknya banyak yang harus saya renungi selepas makan di sini. Terutama karena gajian masih lama dan isi dompet yang sudah nangis-nangis.

Sate Pentol : Bahagia itu Sederhana

Add Comment
Dwi Andri YatmoTulit...tulitt...tulittt....Suara tersebut saya yakin sudah familiar di telinga orang pedesaan atau kampung. Suara yang seolah dinanti oleh anak-anak kecil. Itu adalah suara dari alat yang dipakai oleh penjual sate pentol. Tahu sate pentol? Tidak tahu?

Sate pentol itu seperti bakso. Tetapi bukan bakso. Kalau bakso dalam komposisinya menggunakan daging. Sedangkam di pentol itu hanya menggunakan tepung kanji. Walau ada beberapa penjual yang memberikan isi telor puyuh atau sedikit daging di dalammnya.

Masih bisa dijumpai para penjual ini menjajakan pentol di sore hari. Rata-rata masih menggunakan sepeda untuk berjualan. Ada juga sih yang menggunakan sepeda motor, seiring mengikuti perkembangan jaman. Meski jumlahnya sudah tidak sebanyak sewaktu saya masih kecil.

Salah satu yang masih berjualan adalah Pak Bagong, begitu orang memanggilkan. Entah siapa nama asli bapak satu ini. Kehadirannya selalu dinanti setiap sore. Dengan suara khasnya tulit..tulit...tulit.
Pak Bagong, penjual sate pentol | Foto : Dwi Andri Yatmo
Beliau sudah berjualan kurang lebih 1 tahunan. Sebelum berjualan pentol, Pak Bagong dulu merantau ke Kalimantan bersama istri dan anaknya. Setelah beberapa tahun kembali lagi ke Jawa. Dan akhirnya memutuskan untuk berjualan pentol. Informasi tersebut saya dapatkan dari tetangga yang juga sering beli pentolnya.

"Kenapa sih Pak memilih berjualan pentol?"tanya saya ketika membeli. Kebetulan Pak Bagong ini sering mangkal di depan rumah orangtua saya. Dan anak-anak yang hendak mengaji biasanya berhamburan mengerumuninya ketika datang.

"Niatnya ya berjualan untuk menafkahi keluarga. Selain itu juga untuk menebarkan kebahagiaan untuk anak-anak kecil di wilayah ini."
Sate pentol Pak Bagong | Foto : Dwi Andri Yatmo

Sambal kacang, kecap dan caos | Foto : Dwi Andri Yatmo
Saya sempat tertegun mendengar jawaban dari Pak Bagong. Kebahagiaan? Apa hubungannya dengan sate pentol?

"Sewaktu kecil saya juga sering beli sate pentol. Waktu itu bisa beli sate pentol adalah kebahagiaan di waktu sore hari. Tetapi sekarang ini kok sudah jarang yang berjualan. Saya tidak ingin profesi tersebut hilang. Lihat wajah-wajah anak kecil ketika membeli."

Saya pun melihat wajah-wajah anak kecil tersebut. Merek senang. Bahagia, meski hanya membeli dan memakan sate pentol.

"Memang mereka tidak tahu bahagia itu apa. Yang mereka tahu bisa beli jajan itu sebuah kesenangan. Itulah makan bahagia sebenarnya. Bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. Ya contohnya bisa beli sate pentol. Bahagia itu pada dasarnya sederhana. Kitalah yang sebenarnya membuay rumit. Dengan segala kriteria tetek bengek duniawi."
Pak Bagong sedang melayani pembeli anak-anak | Foto : Dwi Andri Yatmo
Saya seolah dibukakan sebuah pengertian yang baru dalam memahami apa itu bahagia. Memang benar kata Pak Bagong, bahagia itu sederhana. Bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Tidak memaksakan keinginan diluar kemampuan kita. Salah satunya bisa menyantap sate pentol di sore hari.

Oh iya lupa, harga sate pentol di Pak Bagong 1.000 rupiah dapat beberapa pentol. Karena sekarang wadah pentol sudah pakai plastik. Ketika kecil dulu, beli pentol itu ya pakai sunduk dari bambu gitu.

Salam puinuk!

Fenomena Bakso Beranak

Add Comment
Dwi Andri YatmoBeberapa waktu lalu sempat heboh kuliner bakso beranak di desa saya. Hal ini karena sedang boomingnya tentang bakso beranak di media sosial dan media televisi. Viralnya pemberitaan tentang varian bakso yang terbilang abnormal ini membuat para penjual bakso ngalab berkah dengan tren ini.

Secara sekejab semua spanduk penjual bakso berganti baru. Tidak lupa ada kalimat Bakso Beranaknya. Hmapir semua mengikuti fenomena tersebut. Apakah salah? Tidak. Tidak ada yang salah ketika sebagai penjual mau tidak mau harus mengikuti tren yang sedang terjadi. Kalau tidak mau ditinggalkan pembeli atau dicap kurang up to date.
Bakso Beranak | Foto : media.travelingyuk.com
Kenapa disebut bakso beranak? Karena di dalam bakso ada bakso lagi. Diibaratkan bakso yang di dalam bakso itu adalah anaknya. Walau masih rancu siapa yang menghamili itu bakso hingga hamil dan beranak pinak, haha.

Fenomena seperti ini sebanarnya bukanlah yang pertama kali terjadi. Kembali beberapa tahun belakang, masih ingat di dalam pikiran kita betapa mewabahnya fenomena Es Krim Pot. Gegap gempitanya seheboh seperti yang terjadi saat ini. Semua berlomba-lomba menyediakan menu es krim pot. Lambat laun muncul varian-variannya, mulai dari Es Krim Kuburan sampai Es Krim Mantan.
Es Krim Pot | Foto : www.tokomesin.com
Apakah tren kuliner seperti ini akan bertahan lama? Sayangnya hal tersebut tidak bisa bertahan lama. Karena pada dasarnya fenomena tersebut booming karena RASA PENASARAN. Bukan karena kualitas dari produk tersebut. Jadi jangan heran, ketika sesuatu tren booming maka jangan heran pula seketika redup bahkan hilang. Kecuali ada nilai tambah (add value) yang ditambahkan di dalma produk tersebut.
Es Krim Kuburan | Foto : www.kulinersehat.com
Kalau saya pribadi untuk bakso tidak begitu suka. Emak saya yang paling suka bakso. Kalau bukan membelikan beliau, saya juga tidak membeli bakso yang entah siapa bidannya kok bisa beranak, hehe. Ada perbedaan memang, kalau bakso biasanya hanya 8.000 rupiah. Untuk varian satu ini dihargai 12.000. Dan tentu hal tersebut berbeda satu daerah dengan daerah lainnya.

Entah tren apalagi setelah bakso beranak ini hilang. Bisa jadi muncul bakso bidan, bakso dokter, bakso keguguran, atau bakso-bakso lainnya.

Sekali lagi, jika sebuah produk hanya dibeli karena sebatas PENASARAN. Jangan berharap bertahan lama atau eksis. Karena ketika sudah terpuaskan atau terpenuhi penasaran tersebut, kebanyakan konsumen tidak akan membelinya lagi. Itu sudah menjadi hukum dagang.


Salam Puinuk.

Mampir Ke Bakmi Jowo Mas Ayu Jilid II

Add Comment
Dwi Andri YatmoSebenarnya kalau dikatakan jilid II sih tidak juga, karena ini adalah kesekian kalinya saya datang ke sini lagi. Kalau yang pertama mungkin bisa rekan-rekan baca lagi di sini Mampir ke Bakmi Jowo Mas Ayu. Oh ya sekadar memberitahukan ternyata jika kalian googling di maps yang keluar adalah Bakmi Jowo Mbak Ayu. Entah siapa yang pertama kali membuatnya.
Spanduk depan warung Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo
Untuk spanduk masih seperti terakhir saya ke sini. Masih sama. Tidak ada yang berubah. Yang berubah hanya ada tambahan dua karyawan yang masih muda membantu dua karyawan yang selama ini saya kenal. Siapa lagi kalau bukan si Ucil sama si Kirno.

Si Ucil salah satu karyawan Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo
"Lho No, kamu balik lagi ke sini?" tanyaku kepada Kirno. Karena terkahir kali si Kirno memutuskan keluar untuk merantau ke Jakarta. Katanya ingin mencari penghasilan yang lebih. Ujung-ujungnya juga balik ke sini lagi.

"Iya Mas, habis lebaran ke sini lagi."

Suasana ruangan juga masih terlihat sama. Hanya warna cat yang terlihat baru. Pak Sumardi tidak terlihat membantu jualan. 

Salah satu pembeli Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo

Televisi hiburan satu-satunya di Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo

"Bapak kemana, Cil?"

"Masih di atas Mas. Perlu saya panggilkan?" tawar Ucil

Saya hanya menggelengkan kepala. Mmapir ke sini juga hanya ingin melepas kangen akan rasa makanan nasi ruwet godog. 

"Cil, pesan seperti biasa ya!"

"Oke!"

Saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih baru tinggal di kota ini, Semarang. Saat itu diajak makan sama teman mencari bakmi jowo. Itu pertama kalinya saya mendengar dan akan makan makanan yang say asendiri masih awam.

Awalnya saya menduga bakmi jowo itu tidak jauh berbeda dengan mie ayam. Itu anggapan saja waktu itu. Jadi ya saya iyakan saja tawaran tersebut. Ternyata eh ternyata, anggapan saya tersebut bertolak belakang 180 derajat.

"Ini makanan apa coba?" batin saya waktu itu.

Itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan yang namanya bakmi jowo, Maklum di desa tidak ada yang namanya bakmi jowo. Adapun ada hanya mie ayam sama mie tektek. Lucu memang, awal pertama kali saya seolah tidak suka dengan makanan satu ini. Tetapi lambat laun malah bisa dibilang selalu mencari makanan ini. Ah, cinta pada pandangan pertama sepertinya tidak terjadi di saya untuk bakmi jowo ini, hehehe

Lamunan saya buyar ketika si Ucil datang membawakan pesanan saya. 

Nasi Ruwet Godog | © Dwi Andri Yatmo
"Nasi ruwet godog tanpa telor, pedasnya sedengan"

Saya hanya tersenyum.

Ah ya, kenapa saya memilih pedas sedengan. Karena pada dasarnya kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam semua hal. Sedang-sedang saja. Karena toh jika kurang pedas ada beberapa butir cabe yang sudah disiapkan di atas meja. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sepertinya rindu ini akan segera terobati dengan masuknya satu suap demi suap makanan yang sudah tersaji di depan mata. Mari menikmati hidup dengan bahagia.

Salam Puinuk

Warung Kopi Masa Lalu dan Masa Kini di Desa

Add Comment
Dwi Andri YatmoTidak dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia gemar sekali mengonsumsi kopi. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan Indonesia memiliki jenis kopi yang kualitasnya diakui dunia. Dengan kebiasaan orang Indonesia yang menyeruput kopi memutarkan roda perekonomian masyarakat bawah. Banyak dijumpai warung kopi di setiap pelosok Indonesia.
Warung Kopi | Foto : www.kilassumberayu.com
Waktu dulu warung kopi hanyalah warung biasa. Hanya menyediakan meja dan kursi panjang. Mayoritas yang datang juga hanya orang-orang tua. Tidak pernah dijumpai anak-anak ngopi di warung kopi kala itu. Warung kopi masa lalu identik dengan warung nongkrongnya orang-orang tua.

Saat itu kopi instan belumnya sebooming saat ini. Menu andalannya hanya kopi hitam. Kopinya pun rata-rata kopi buatan sendiri. Diproses sendiri. Masih ingat ketika dulu simbah putri membut kopi untuk simbah kakung. Simbah kakung saya memang penyuka kopi. Selepas magrib pasti sudah absen di warung kopi desa sebelah.

Biji kopi dikeringkan. Kemudian disangrai menggunakan wajan tanah liat. Dengan ditambahi potongan jagung atau potongan kelapa. Katanya untuk menambah cita rasa kopi tersebut. Selepas disangrai kemudian ditumbuh menggunakan alu di lumpang. Sampai lembut dan bercampur. Kopi pun siap diseduh.

Repot bin ribet memang. Maklum saat itu kopi sachetan belum begitu semasif sekarang ini.

Warung kopi jaman dulu digunakan sebagai tempat demokrasi. Bertukar pendapat. Mengumpat kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak pro rakyat. Hiburannya pun hanya sebuah televisi tabung atau sebuah radio merk national. Terkadang jika empu warung kopi menyediakan papan catur.

Warung kopi seolah one stop obrolan apapun. Apapun itu. Mulai dari politik, sosial, kehidupan menggarap sawah, sampai obrolan pekerjaan terkadang deal di warung kopi. Semakin banyaknya warung kopi kala itu, semakin mudah para warga untuk mendapatkan akses informasi.
Kopi Hitam | Foto : Nasirullah Sitam
Perkembangan teknologi memang tidak bisa dibendung dengan berjalannya waktu. Penetrasi internet yang mulai merambah perdesaan. Mulai merubah wajah awal warung kopi. Selain itu menjamurnya produk-produk kopi instan yang menjawab tren pasar juga mengambil andil. Pada intinya untuk menikmati segelas kopi sudah tidak perlu repot-repot lagi. Cukup sobek bungkus sachet, tuang air panas.

Warung kopi dulu citranya hanya warung bangunan sederhana. Di pinggir jalan raya bangunan seadanya dengan dinding bilik bambu mentok dinding kayu. Mulai bertansformasi. Warung kopi sekarang bertempat di ruko-ruko. Dengan bangunan yang modern. Menggabungkan konsep cafe.

Dan hal wajib yang harus disediakan setiap warung kopi saat ini. Bukanlah seberapa banyak koleksi kopi yang kalian punya. Seberapa cakap dan pintar si penyedup kopi (baca: barista) menyediakan kopi pesanan. Bukan itu semua. Melainkan wifi dan tempat yang nyaman untuk nongkrong.

Jika dua elemen tersebut tidak dipenuhi, saya yakin warung kopi tersebut bakalan sepi pengunjung. Generasi millenial sekarang ini tidak peduli seberapa enak tidaknya kopi yang mereka minum. Mereka bakalan menjawab sama.

Bahkan sebuah warung kopi ditandai layak atau tidaknya. Ramai atau tidaknya. Bukan dari segi rasa kopinya. Melainkan seberapa cepat koneksi wifinya.
Wifi sudah jadi fasilitas wajib | Foto : ruangshare.files.wordpress.com
Tidak heran warung kopi sekarang ini lebih didonimasi oleh anak-anak muda. Pesan, cari tempat duduk kalo bisa dekat colokan stop kontak, bergelit dengn smartphone mereka masing-masing.

Marwah warung kopi masa lalu sebagai tempat bersosialisasi. Bercengkerama dengan masyarakat lainnya mulai hilang. Mereka lebih sibuk dengam gadget mereka. Menghiraukan keadaan sekitar.


Warung kopi yang dulu jadi tempat demokrasi masyarakat bawah. Sudah jarang kita jumpai di kota-kota besar. Hanya ada beberapa yang masih memegang marwah tersebut. Itupun ada di pinggiran kota. Di pedesaan. Meskipun juga tidak banyak.

Pizzanya Orang Purwodadi

Add Comment
Dwi Andri Yatmo - Bicara kuliner Purwodadi, selalu identik dengan Swieke dan Sayur Becek. Walau sebenarnya masih banyak kuliner yang belum terekspos. Wajar, memang hanya kedua makanan itu yang seolah paling menjadi makanan khas Kota Purwodadi. Tapi saya tak sedang membahas keduanya di sini, lain waktu saja.

Kali ini saya akan membahas tentang Pizza. Yap benar: Pizza. Haisss “Iku kan makanannya orang Italia, Mas?” Memang benar. Itu bukan kuliner asli orang Indonesia, apalagi Purwodadi. Dan, penjualan pizza selalu disangkutkan dengan Pizza Hut. Padahal, kini banyak juga gerai-gerai western yang menawarkan menu serupa.
Tapi sayangnya, di Purwodadi tak ada gerai Pizza Hut. Boro-boro PHD, PH nya saja belum ada. Apakah miris? Ya enggak juga sih. Lha wong lidah orang Purwodadi lebih menyukai sambel daripada jenis makanan dari tepung itu. Akan tetapi, justru karena kekosongan penjual pizza itulah yang membuat peluang usaha ini lumayan menjanjikan.
Sebelum terlalu jauh, saya mau meluruskan sedikit. Purwodadi itu bukan nama kapubaten. Nama kabupatennya adalah Grobogan, sedangkan Purwodadi adalah ibu kota pemerintahan. Umumnya orang kebalik-balik. Tapi ya mau bagaimana lagi, seolah kesalahan tersebut sudah mendarahdaging dalam anggapan banyak orang.
Oke. Kembali ke pizza. Belakangan, usaha-usaha lokal yang menjajakan menu pizza mulai bermunculan. Salah satu pemain tersebut bernama Sunset Pizza. Pemiliknya bernama Nasirhun Ramadhan, biasa dipanggil Run. Model jualannya masih dari rumah, belum memiliki kios atau ruko. Semua dikerjakan dari rumah. Model pemasarannya saat ini masih sebatas PO, alias elo pesan ane buatin dan ane anter.
Sunset Pizza menerima permintaan tertentu | © Sunset Pizza

Pizza Chicken Blackpepper | © Sunset Pizza
Entah ada angin apa, terbesit keinginan untuk sekadar mencoba pizza. Kebetulan si empunya Sunset Pizza, Mas Run, bisa diajak ngobrol perihal usaha yang digelutinya ini.
“Kenapa memilih jualan pizza, Mas? Ini Purwodadi lho, lidahnya lebih suka rempah-rempah”.
Beliau hanya tersenyum kemudian tertawa.
“Ceritanya puanjang. Puanjang banget. Saat itu selepas lulus SMA saya bingung mau kerja apa. Akhirnya ada teman yang ngajakin kerja di resort Pantai Bandengan, Jepara. Waktu itu masih jadi buruh cuci resort. Namanya Sunset Resort. Ya tahulah, bagaimana kerjanya jadi orang yang disuruh-suruh.”
Kami berdua ngobrol di depan rumahnya di bawah pohon kersen, sembari menunggu pesanan saya matang. Kebetulan yang membantu membuat pizza adalah istrinya.
“Akhirnya beberapa tahun, saya naik ke dapur. Sudah tidak jadi buruh cuci. Bantu-bantu nyiapin piring dan sebagainya. Dari sana saya berjanji untuk belajar memasak. Setiap koki saya perhatikan cara memasaknya. Ketika pulang saya catat semua yang sudah diperoleh.”
“Oh ya resort tersebut yang punya orang Italia asli. Saya sudah lupa namanya. Waktu itu saya juga bantu-bantu bagian makanan western Italia, spageti dan pizza. Dari situ saya mulai belajar membuat pizza. Akhirnya saya diangkat jadi koki pizza karena koki sebelumnya resign.”
“Apakah setelah resign dari sana Mas Run langsung berjualan pizza sampai saat ini?”

Kabupaten Grobogan adalah kabupaten terbesar kedua setelah Kabupaten Cilacap dalam hal luas wilayah. Tapi entahlah, Grobogan agaknya tak begitu begitu populer ketimbang kabupaten-kabupaten tetangganya. Blora terkenal karena karya-karya Pram. Rembang terangkat karena nama Puthut EA. Apakah Grobogan juga harus lebih dulu memiliki penulis sekaliber nasional atau internasional agar bisa terkenal?
“Ketika resign dari sana, saya bingung harus kerja apa lagi. Hingga memutuskan berjualan bubur kacang ijo.”
Nashirun Ramadhan si Empu Sunset Pizza | © Sunset Pizza
Saya sedikit kaget. Ilmunya membuat pizza kenapa malah memilih bubur kacang ijo.
“Waktu itu pizza belum populer di sini, walau sekarang juga belum populer, hehe. Intinya dulu belum berani mengambil risiko dalam usaha. Takut tidak diterima pasarlah, takut tidak lakulah. Itulah yang sebenarnya menghambat kita untuk maju. Menyerah sebelum berperang.”
Namun belakangan saat, mengikuti kepindahan istri ke Rembang, usaha bubur kacang ijonya juga berhenti. Berawal dari situlah niatan untuk membuka usaha pizza kembali ada.
“Alasan apa sih mas yang mendasari buka usaha pizza di Purwodadi?”
“Ya paling utama sih cari rejeki untuk keluarga. Selain itu adalah ingin menerapkan ilmu yang sudah diperoleh puluhan tahun lalu. Dan yang tidak kalah penting adalah memberikan kesempatan untuk warga Purwodadi bahwa menyantap pizza tidak perlu bayar mahal.”
“Kenapa optimis pizza bikinan Mas Run pasti diterima masyarakat sini?”
Pizza Chicken Corn | © Sunset Pizza

Pizza Beef and Mushroom | © Sunset Pizza
Untuk kesekian kalinya, orang yang saya ajak bicara tertawa dan tersenyum. Bapak satu anak ini sesekali memandangi layar hape. Mengecek orderan yang masuk via BBM dan Whatsapp.
“Bukannya mau sombong atau gimana ya, Mas. Tapi ketika di resort Sunset dulu, saya diajari oleh orang Italia langsung. Sekaligus pemiliknya. Dan dia memuji roti bikinan saya paling enak. Itu poin pertama. Poin selanjutnya, kalau boleh jujur, saya melalukan sedikit modifikasi atas pizza saya. Kalau menuruti rasa orisinil pizza sana, saya yakin lidah orang ndeso seperti kita akan sedikit tidak familiar. Jadi racikan yang saya gunakan sudah saya sesuaikan dengan lidah orang sini. Tentu tanpa mengurangi esensi dari pizza tersebut yaitu Keju Mozarella.”
“Lantas tanggapan tentang Sunset Pizza bagaimana, Mas?”
Alhamdulillah, istri dari Mas Run keluar membawakan satu pizza pesanan saya. Pizza masih terlihat mengepulkan asap. Ini juga yang selalu Mas Run jaga, agar pizza tetap hangat hingga sampai di konsumen. Sebab, katanya, waktu paling tepat untuk menyantap pizza adalah saat mengepul.
Tanpa babibu kami pun langsung menyantap pizza.
“Alhamdulillah banyak yang order. Karena dari saya sendiri memberikan ongkos kirim gratis untuk sekitaran Purwodadi kota. Kalau memang rumahnya jauh, biasanya saya memberikan tambaham 10.000 sebagai ganti bensin. Jadi saya berharap orang desa pun bisa merasakan apa itu pizza. Tanggapannya rata-rata sama. Mereka suka dengan rasa yang saya tawarkan. Bahkan katanya lebih enak dari pizza-pizza lainnya. Itu bukan sombong lho ya, hehe..”
“Apakah ada hal menarik yang pernah terjadi selama menggeluti usaha ini Mas?”
“Banyak sekali. Mulai dari yang tanya ‘itu pizzanya besarnya berapa, Mas?” sampai pernah itu sekali mengantar pizza sampai ke desa pelosok. Saya awalnya mengira tempatnya dekat, lha kok ternyata naudzubillah jauhnya. Itulah warna dalam berusaha. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil.”
Meski belum memiliki lapak untuk berjualan, tak membuat Sunset Pizza sepi orderan. Bahkan sampai malam ada juga yang masih memesan pizza. Hingga Mas Run memutuskan waktu order mulai pukul 10.00 – 17.00 WIB.
“Rejeki sudah diatur Allah Swt., kenapa harus ngoyo? Dulu pesanan malam pun saya ambil. Tetapi ke sini-sini sudah saya tolak. Buat 24 jam dibuat kerja. Ada kalanya waktu untuk keluarga juga penting. Lha kapan kamu nikah?”
Tiba-tiba suasana jadi hening.
Untuk harga tenang sobat, tidak sampai menguras kantong kok. Aman juga untuk sekadar traktiri teman-teman, gebetan atau calon mertua. Mulai dari harga 30.000 – 50.000, tergantung toping apa yang diinginkan. Jika rekan ada yang ndilalah main ke Purwodadi, bolehlah kabar-kabar, kita ngopi sembari menikmati pizza dari Sunset Pizza.

Dimuat di Minumkopi.com tanggal 10 Agustus 2017

Nasi Goreng Padang Bang Jo

Add Comment
Dwi Andri YatmoSepanjang Jalan Hasanudin bisa dikatakan surganya kuliner di Semarang. Bagaimana tidak? Setiap jengkal pinggir Jalan Hasanudin bisa dijumpai para penjaja makanan. Mulai dari angkringan, cemilan, jajanan pasar, warung tegal, warung soto, warung padang, penjual martabak, kue bandung dan masih banyak lagi.

Malam ini saya dan satu teman luar kota yang kebetulan main ke Semarang dalam rangka pekerjaan menginginkan kuliner yang memberikan kesan tidak terlupakan. Yang tidak ada di kotanya yaitu Surabaya.

“Nyari makan yang tidak terlupakan kalau saya pernah main ke sini bro?” ujar Agung, nama teman saya tersebut.

“Wah, banyak sekali sebenarnya. Susah kalau disebutkan satu persatu!”

“Nyari yang dekat-dekat saja sini lakwis bro,” lanjutnya.
Tampak Depan Warung | © Dwi Andri Yatmo
Saya pun langsung teringat dengan Nasi Goreng Padang Bangjo. Warung abnormal dari warung-warung nasi goreng lainnya. Langsung saja, saya dan Agung memutuskan untuk ke sana. Hanya butuh beberapa menit dari tempat kosan.

Warung yang didominasi warna hijau sudah terpampang di depan mata. Sedikit memberikan corak Rumah Gadang. Untuk nama warung ini sebenarnya adalah Warung Bangjo Hasanudin. Karena menu spesial dan yang diutamakan adalah Nasi Goreng Padang, maka orang lebih suka menyebutnya Warung Nasi Goreng Padang Bangjo.

Area Parkir motor terletak di samping depan pintu masuk Warung | © Dwi Andri Yatmo
Ruangan Lesehan dan Gazebo | © Dwi Andri Yatmo
Ketika masuk kita akan disambut oleh pegawai yang memberikan buku menu, selembar kertas dan pulpen untuk menuliskan pesanan. Ruangan warung dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yang hanya ada kursi panjang dan meja. Sedangkan sebelahnya untuk lesehan dan ada tiga buah gazebo di dalamnya. Tinggal memilih mana yang sekiranya cocok.

Berdasar penuturan si empu warung. Penemuan masakan Nasi Goreng Padang berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Pada medio akhir tahun 2006 salah satu anak Bang Jo minta dibuatkan nasi goreng. Persoalan muncul, lantaran bumbu-bumbu yang diperlukan untuk membuat nasi goreng, tidak tersedia di dapur. Yang ada saat itu adalah bahan-bahan masakan Padang pada umumnya. Karena waktu itu masih berjualan masakan Padang pada umumnya.

Kebingungan hinggap di pikiran Bang Jo setelah mendapati ketiadaan bumbu-bumbu yang diperlukan dan keinginan anaknya untuk menyantap nasi goreng saat itu juga. Di saat terdesak itulah, inspirasi datang. Bahan-bahan masakan Padang yang ada di dapur oleh Bang Jo diolah sedemikian rupa agar dapat menyatu sempurna dengan nasi putih. Tak perlu waktu lama, terlahirlah nasi goreng baru.

Lantas kenapa namanya Nasi Goreng Padang?

Hal tersebut diberikan karena masukan teman-teman Bang Jo yang ikut mencoba pertama kali. Cita rasanya yang lezat, khas, tidak pernah ada sebelumnya, dan dibuat dengan bumbu masakan Padang, yang melatarbelakangi mereka secara kompak memberikan nama Nasi Goreng Padang. Sejak saat itulah nama tersebut menjadi brand produk Warung Bang Jo hingga sekarang. Bahkan warung yang kami kunjungi saat ini lebih dikenal dengan sebutan Warung Nasgor Padang.

Nasi Goreng Padang Kambing Pete | © Dwi Andri Yatmo
Malam ini saya memesan nasi goreng jumbo kambing plus pete dan telor pedas. Agung juga memesan dengan menu yang sama. Bisa dikatakan nasi goreng di sini nasi goreng custom. Kita boleh memilih lauknya sesuai selera kita. Bisa lebih dari satu lauk. Mau dua macam lauk, tiga, empat, hingga tujuh atau berapapun jumlah lauk yang kita inginkan. Tidak berpaku pada yang ada di menu. Sesuai selera. Selain itu juga kita bisa menambah porsi nasinya.

Pilihan lauk yang ditawarkan cukup beragam diantaranya: telur, keju, pete, babat, ayam, rempelo ati, hati sapi, sosis, dan menu lauk vegetarian. Ada pula bakso, daging sapi, daging kambing, udang, cumi-cumi, ikan asin, kerang, dan keju nanas.

Tingkat kepedasan juga bisa kita yang memilih. Mulai dari level tidak pedas, pedas sedikit, sedang, pedas, pedas banget, hingga level jantan.

Selain Nasi Goreng Padang sebagai andalan, warung ini juga menawarkan varian nasi goreng lain, yang sudah tentu tak kalah lezatnya. Yaitu; Nasi Goreng Arab yang dilengkapi dengan lauk, daging kambing dan kurma (yang dicampurkan ke nasi goreng), plus kismis sebagai toppingnya. Ada pula Nasi Goreng Thailand yang dilengkapi dengan lauk: udang, nanas, dan telur dadar khas kreasi Bang Jo. Selain itu dicampurkan kecap ke dalam masakan Nasi Goreng Thailand, sebagai pelengkap cita rasa. Perkara jumlah lauk dapat kita tambah sendiri, seperti halnya pada Nasi Goreng Padang.

Butuh beberapa menit kami berdua untuk menghabiskan nasi goreng jumbo yang kami pesan.

“Uedan, pedes bro?

Kowe mau mesenke pedes to?

Badjingan!” umpat si Agung yang meskipun sedikit jengkel. Terlihat bulir-bulir keringat di wajahnya. Saya hanya tertawa.

Warung ini buka pukul 12:00 sampai dengan pukul 22:00. Untuk waktu tutup, sebenarnya tidak kaku pada jam tersebut. Jika nasi masih ada, dan ada pembeli yang datang, ya masih akan dilayani. Begitu juga sebaliknya, jika nasi sudah habis sebelum pukul 22:00 WIB, warung akan tutup lebih awal.

Jadi bagi yang kebetulan mampir atau sedang liburan ke kota Semarang tidak ada salahnya untuk mencoba. Oh ya untuk alamat warungnya di Jalan Hasanudin 8, dengan nama Waroeng Bangjo Hasanudin, spesial Nasi Goreng Padang.

Masalah harga ramah di kantong kok. Jadi jangan takut jika mau traktir pasangan atau gebetan di warung ini. Semisal hendak nembak gebetan di sini, bisa juga. Kalau semisal ditolak bilang saja sama pramuniaganya untuk ditambahi pedesnya ke level mantap jiwa untuk si gebetan. Kapokmu kapan? Hahaha…

Sepotong Kenangan di Warung Soto Barokah Pak Slamet

Add Comment
Dwi Andri YatmoMalam itu gerimis enggan untuk berhenti. Aku langkahkan kaki ini untuk menuju parkiran motor Stasiun Poncol Semarang. Jika rintik gerimis kecil-kecil seperti ini bisa dipastikan lama. Aku arahkan laju motor menuju Jalan Hasanudin.

Setelah melewati rel kereta api, kurang lebih 300 meter dari rel. Tepatnya kanan jalan, terlihat spanduk warung warna kuning mencolok. Warung Soto Barokah Pak Slamet.
Spanduk Warung | © Dwi Andri Yatmo
Ketika masuk ke dalam warung terlihat satu deret meja dan kursi panjang menyambut. Ada juga kursi dan meja yang berada di dalam rumah. Warna hijau mendominasi warung tersebut. Dindingnya hijau muda. Plafon-nya juga demikian. Hanya spanduk depan yang berwarna kuning.

“Pak soto satu ya?” ujarku sembari mencari tempat duduk.

“Mangkuk besar atau mangkuk kecil, Mas?” jawab seorang bapak-bapak gempal menimpali. Agaknya beliau adalah pemilik warung soto ini.

“Mangkuk besar, Pak. Minumnya teh anget saja!”

Di warung ini soto ternyata disajikan dengan dua pilihan wadah. Mangkuk kecil dan besar —mangkuk cap ayam jago. Memudahkan para pembeli ketika hendak makan. Kalau belum makan seharian dan ingin kenyang bisa memilih mangkuk besar. Namun, jika hanya makan selingan (mindho), atau mungkin malu di depan pacar, bisa pilih mangkuk kecil. Meski tidak ada korelasinya. Kalau mangkuk kecil masih terlalu banyak untuk ukuran wanita, bilang saja setengah. Tetap dilayani.

Soto Mangkuk Besar | © Dwi Andri Yatmo
Soto Mangkuk Kecil | © Dwi Andri Yatmo
Alunan musik terdengar dari sound speakers kecil yang ditempatkan dekat kipas angin. Genre musik yang diputar si pemilik warung ini cukup unik. Lagu kasidah Nasida Ria dan selawat langitan. Membuat saya membayangkan masa kecil ketika setiap sore mendengar musik selawat Langitan, Nasida Ria atau musik rebana lainnya. Ketika telinga dulu familier dan hafal lagunya Haddad Alwi dan Sulis. Terasa adem di hati bercampur terenyuh. Membawa kembali puluhan tahun ke belakang, saat-saat masih kecil.

“Monggo mas!” ujar si pemilik membuyarkan lamunan saya.

Satu mangkuk soto sudah tandas di depan saya. Terkadang rasa makanan menjadi bukan tujuan utama, terkalahkan oleh suatu kepuasan hati yang kita dapatkan dari tempat makan tersebut. Bisa Karena nuansa nostalgia sewaktu kecil. Mengingatkan kita kepada momen-momen spesial di dalam hidup.

Satu per satu pembeli mulai meninggalkan warung. Hanya tersisa beberapa pembeli yang ada di dalam warung.

“Kenapa tetap memasang pikulan itu pak?” tunjuk saya yang sedari tadi ingin bertanya banyak hal ke Pak Slamet, si pemilik warung.

“Sebagai pengingat saja, Mas. Dulu awal saya berjualan soto dengan cara dipikul. Ya pakai pikulan atau mbatan ini. Alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa menyewa tempat kecil ini. Semoga dengan keberadaan benda ini selalu mengingatkan saya untuk tidak sombong atau takabur. Bahwasanya semua rejeki datangnya dari Allah Swt.”

“Lantas kenapa nama warungnya soto barokah Pak?”

“Barokah dalam bahasa Arab berarti nikmat. Saya berharap selain bisa menyajikan makanan yang nikmat untuk para pembeli. Juga mendatangkan rejeki yang barokah. Dan semoga juga bisa mendatangkan kebaikan bagi kita semua.”

Lagi-lagi terselip sebuah doa dalam pemilihan sebuah nama. Terlepas itu berbau kebarat-baratan, kearab-araban, kejawa-jawaan. Pada intinya sama, ngalap berkah dari nama tersebut.

Pak Slamet, Pemilik Warung Soto Barokah | © Dwi Andri Yatmo
“Pertanyaan terakhir, Pak! Kenapa memilih memutar lagu-lagu islami dan selawatan?”

Pak Slamet hanya tertawa kemudian tersenyum.

“Saya ini orang perantauan Mas. Dulu ketika kecil di kampung. Setiap selepas Salat Asar rumah-rumah yang memiliki CD/DVD player pasti memutar musik Nasida Ria atau selawatan. Atau musik rebana islam lainnya. Dan saat-saat itulah saya merasakan hati ini adem dan damai. Semoga hal itu juga bisa dirasakan bagi pembeli di sini. Dan yang pasti selalu mengingatkan suasana di kampung tempo dulu. Tahu kenapa suatu kenangan itu sangatlah berharga, Mas?”

Pak Slamet berbalik bertanya. Saya hanya menggelengkan kepala tidak tahu.

“Karena kenangan tidak bisa berulang kembali.”

Sebuah kenangan memang mahal harganya. Bahkan tidak bernilai dengan uang.

Jika mampir ke Semarang tak ada salahnya berkunjung ke warung soto ini. Oh ya untuk satu porsi soto mangkuk besar harganya hanya enam ribu sedangkan untuk mangkuk kecil harganya lima ribu. Murah meriah betul, dan siapa tahu di sini teman-teman bisa menemukan secuil kenangan entah apa pun itu.