Loading...
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Gadis Bergigi Gingsul

Add Comment

Dwi Andri Yatmo - “Lek, gadis yang giginya gingsul itu cantiknya nambah ya,” ujar Soni di angkringan depan kontrakan.

“Hu’um Lek. Manis dan cantiknya nambah,” jawabku sekenanya.”Tumben bahas gadis gingsul?”

“Hahaha,” sahut Soni salah tingkah. “Mantanku sing terakhir yo gingsul Lek, hehe.”

“Ooohh kelingan mantan ceritane.”

Obrolan ringan malam ini ditemani secangkir kopi dan segelas soda gembira. Entah mengapa akhir-akhir ini aku selalu ingin minum soda gembira. Seolah bisa membuat tubuh ini jadi enteng dan segar. Ya mau itu hanya sugestiku belaka. Badjingan memang.

“Kalo semisal kowe diundang nikahane mantan, kowe piye Lek?”

“Yo tekolah.”

“Kuat kowe lek?”

“Lek,tak kandani yo. Wis kodrate wong sesama muslim nak diundang wajib teko. Bedo nak semisal kowe ora diundang ujuh-ujug ngamuk rak karuan nek nikahane mantanmu. Iku sing ora oleh. Lha nak masalah kuat orane iku lak urusan keri to Lek.”

Soni hanya mengangguk-anggukkan kepala. Entah mudeng atau tidak. Ambigu.

“Lha opo mantanmu meh nikah?”

“Ameh Lek.”

“Berarti durung. Wong lagi ameh.”

“Kan yo kemungkinan besar tetap nikah.”

“Lha kowe kok sing nyolot ngunu. Sih seneng po?”

“Oooorrraa…….aaakklah.”

“Heleh telek kucing. Ngomong wae sih seneng.”

“Hehe. Sitik Lek. Jebule kroso nyesele keri Lek. Mbiyen ditakoni bapake aku jawab mundur. Nak tak jawab yakin ngunu palingan statusku orak kyok kowe.”

“Sayange kok ora kedadean yo. Mung angan-anganmu tok.”

Hahaha. Kami tertawa bersama. Menertawakan kisah asmara kami yang rumit dan pahit.

“Jane to Lek. Kuncine ki mung siji,” aku menepuk pundak Soni.

“Opo?”

“Yakin.”

“Kok yakin?”

“Innamal a’malu binyaqin. Kabeh kuwi didelok kowe yakin tah orane. Kowe pedot karo mantanmu lak mergo kowe orak yakin karo awakmu dewe? Yo ora? Tapi di satu sisi, kadang yo enek sing pedot mergo wedoke orak yakin karo kowe. Ngunu kuwi okeh jenise. Kari sing ora yakin sopone.”

Bisa dikatakan putus asmaranya Soni yanh terakhir lantaran tidak yakin dengan dirinya sendiri. Situasi yang belum wisuda-wisuda membuatnya harus mundur. Walau bisa dikatakan sedikit pengecut juga. Lha nyatanya sekarang dia menyesali pilihannya waktu itu. Menungso memang panggone sambat.

“Lek Soni, tak kandani yo. Iki ilmu soko Ustad Tanto Termehek-Mehek, move on iku orak melupakan. Tapi bagaimana cara kita mengikhlaskan.”

“Iku omongane Ustanto?”

Aku hanya mengangguk,sembari menuangkan tetesan soda terakhir ke gelas.

“Wong kae yo podo wae. Omongane guedi-guedi. Sok bijak. Tapi galaune setengah modyar karo mantane Ida. Telek minti Tad,” umpat Soni.

“Kowe karo bocah siji kae lakyo kembar masalah mantan karo galau. Cocok nak semisal curhat-curhatan.”

“Wis pokoke tahun iki (2018) opo tahun ngarep aku meh nikah.”

Hampir aku keselek es batu di gelas yang ku minum mendengar ucapan Soni barusan.

“Yakin?” tanyaku memastikan.

“Yakinlah!”

“Maksudku kuwi yakin enek sing gelem? Ha ha ha”

“Ooo..konco cap taek!”

Kita lihat saja apakah itu terwujud? Wallahu alam.

Pesona Seorang Perawat

Add Comment

Dwi Andri Yatmo - “Kau tahu Lek, beberapa hari lalu aku dikenalkan dengan seorang perawat. Sudah pegawai negeri pula. Aku kudu piye Lek?” keluh Soni di hadapanku. 

Bedebah memang anak satu ini. Jika kalian pernah membaca tulisanku sebelumnya yang ini. Tentu kalian bisa memaklumi umpatanku barusan. Jika mendengar kata perawat, aiihhh, seolah-olah hanya angan-anganku belaka. Jadi, dulu kala, aku pernah berkeinginan memiliki pacar seorang perawat. Tetapi sampai tulisan ini jadi pun belum pernah sekalipun itu terwujud. 

Kembali lagi ke persoalan pelik tadi. Agaknya Lek Soni bimbang akan pilihan yang harus diambil. Lanjut atau tidak, begitu versi sederhananya. 

“Kowe yo kudu maju. Eman-eman kalo mbok lepas. Belajarlah dari dua kesalahanmu di masa lalu. Bahkan yang terakhir masih berdampak buruk sampai saat ini. Wajah penyesalanmu itu tidak bisa kau sembunyikan.” 

Soni hanya menyengir kuda. Ya mungkin sedikit menohok omonganku. Tapi terkadang kita memang harus memberikan pil pahit kepada orang yang kita pedulikan. 

“Aku sih wedi kok Lek. Nyawang awakku dewe wae isih ngene. Orak level karo bocahe sing wis pegawai negeri. Aku hanya remah-remah rengginang Lek.” 

“Sing mbok takutkan itu lho opo?” 

“Jasik, bapaknya seorang polisi Lek. Ibunya seorang guru sekolah dasar. Lha aku iki opo to Lek?” 

Sulit memang berbicara percaya diri pada orang yang umurnya sudah kelewat untuk sekadar pacar-pacaran. Sudah tidak pantas. Tetapi bukankah cinta tidak memandang usia atau umur? Aaahh ribet. 

“Aku lakyo keder to Lek.” 

Aku hanya menepuk pundaknya sebagai rasa empati. Berat memang. Jika selalu status sosial dan ekonomi dijadikan patokan dan panutan. Tapi ya memang begitu adanya bukan? Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tak terkecuali untuk masalah pasangannya. 

“Kita senasib Lek,” batinku menambahi. 

Semilir angin malam menerpa. Mengabarkan bahwa dingin mulai menyambut. Aku seruput kopi hitam sebagai teman obrolan dua orang yang tak paham tentang dunia percintaan. 

“Sepertinya ada yang salah di hidup kita deh Lek,” ujar Soni sembari menyesap kopi miliknya. 

“Kita?” sambarku refleks.”Kamu sendiri kalee Lek, haha.” 

Kami tertawa bersama. Ya, menertawakan diri sendiri yang sebenarnya tidak paham yang salah di bagian mana. 

“Harusnya kita itu sudah tidak membahas pacar-pacaran. Gebetan. Bingung nembak cewek. Itu masa sudah terlewatkan untuk kita yang umurnya sudah segini. Harusnya obrolan kita itu, gimana kabar anakmu? Istrimu gimana sudah tekdung lagi? Ada keinginan nambah momongan? Istri mau nambah gak?....” 

Ha ha ha. Lagi-lagi kami tertawa. Aneh memang membayangkannya. Tetapi itulah yang seharusnya kami bahas saat ini. Oh Tuhan, beri petunjuk hamba-Mu yang menyedihkan ini. 

“Satu saja kesulitan. Sok-sokan nambah. Lagian to Lek, kamu curhat juga salah tempat. Curhat kok sesama tuna asmara. Kita itu curhatnya ke Lukman, yang notabene sudah jadi bapak sekaligus suami. Pengalaman asmaranya lebih banyak daripada kita ini. Mantanmu saja bisa dihitung jari, lha dia? Entah sudah berapa sekian. Dirimu saja mantan baru 2 move on setengah mati.” 

Modyar. Kuapokmu kapan, ha ha ha. 

“Telo kowe Lek. Malah mbok umbar kabeh ngunu.” 

Tiba-tiba terdengar bunyi nada dering. 

Atiku rasane loro 

Nyawang kowe rabi karo wong liyo 

“Djiancuk nada dering hapemu kok makjleb ngunu koyok sing duwe,” kagetku sembari ingin tertawa.“Lek tak kandani yo jare wong-wong tuwo. Bojo kuwi durung tentu jodo, tapi nak jodo mesti dadi bojo. Paham ora?” 

“Ora usah gusar nak ditinggal rabi karo mantan. Haruse kowe ki bangga.” 

“Lha kok iso kudu bangga Lek?” tanyanya heran 

“Yo bangga, karena selama ini kamu menjaga jodoh orang lain,ha ha ha” 

“Oooh ncen djiancuk,” umpatnya kemudian disambung gelak tawa. 

Indahnya malam ini.

Kembalinya dwiandriyatmo.web.id

Add Comment

Dwi Andri Yatmo - Sebenarnya saya bingung harus memulainya dari mana, hahaha. Sudah berabad-abad rasanya saya tidak menulis lagi di sini. Dan tentunya statistik pengunjung blog ini juga menurun dan semakin menurun, hiks hiks. Tetapi ya mau bagaimana lagi (tetap optimislah).

Oh iya, kenapa kok judulnya kembalinya domain blog ini? Oke, baiklah saya akan sedikit bercerita ke belakang.

Dulu pertama kali saya ngeblog dikenalkan oleh salah satu teman yaitu Lukman. Lewat bantuan dia juga akhirnya saya membeli domain web.id dengan menggunakan nama lengkap saya. Akhirnya terbelilah domain yang sekarang ini. Dahulu masih menggunakan wordpress dan bertahan selama beberapa tahun. Hingga negara api menyerang.

Saat itu pengunjung blognya bisa dikatan lumayan. Hingga beberapa masalah mulai menerpa di dunia nyata. Banyak ujian yang harus dihadapi. Mulai dari ujian dalam pekerjaan sampai ke masalah asmara (eh malah curhat). Semua sungguh menyita waktu dan membuat domain ini terbengkelai.

Imbasnya, saya sudah tidak peduli dengan blog ini. Menengok sajapun tidak pernah. Dan, bisa ditebak hingga jatuh tempo untuk perpanjangan domain inipun harus saya lewatkan. Ogah untuk saya perpanjang. Satu dan lain hal yang mendasari.

Akhirnya domain ini tidak tersedia untuk beberapa tahun, karena masih dipegang oleh pihak penjualnya. Dulu saya mikirnya, "ah, mungkin setahun bisa dibeli lagi."

Dan kalian tahu apa yang terjadi?

Harus menunggu dua tahun, tepatnya kemarin saya baru bisa membeli ini domain lagi. Mungkin si penjual awalnya sudah mendapatkan hidayah untuk melepas ini domain jadi available. Alhamdulillah.

Dan, eng ing eng.....akhirnya dwiandriyatmo.web.id bisa mengudara kembali. Yah, meskipun tidak seperti awal kelahirannya menggunakan wordpress. Tetapi tidak masalah.

Bukankah yang terpenting itu kemauan kita untuk tetap menulis dan menulis.

Dan semoga dengan kembalinya domain -ya cukup bersejerah menurut saya sendiri- ini bisa memacu saya untuk selalu menulis kembali. Aamiin.

Salam Catatan Kecil Anak Petani


Ngopi di Bawah Pohon Kersen

Add Comment
Dwi Andri Yatmo - Letaknya memang tidak mencolok dari jalan utama desa. Hanya bangunan dari bambu dan beratap asbes. Depannya diapit dua buah pohon kersen. Tak lupa angkruk nangkring di bawahnya. Sebagai destinasi utama untuk menikmati kopi.
Pohon Kersen Depan Warung  | Foto : huzenify.blogspot.co.id
Orang sekitar lebih suka menyebutnya KPK. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan lembaga rasuah negara. Hanya saja namanya yang mirip. KPK singkatan dari Komunitas Pecinta Kopi.

Sebagai gambaran saja, kampungku berbentuk letter L dengan arah pandang langsung ke persawahan membentang.

Inilah satu-satunya warung kopi yang ada di sini. Mayoritas profesi warganya masih sebagai petani. Setiap malam tiada hiburan kalau bukan ngopi di warung KPK.

Masalah harga tidak perlu risau. Satu gelas kopi kothok hanya 2ribu rupiah. Sangat sangat terjangkau untuk para petani yang penghasilannya tidak tentu.

Kita bisa menikmati segelas kopi dengan leyeh-leyeh di angkruk persis bawah pohon kersen. Selain itu jika beruntung kita dapat bonus iringan suara musik alam dari persawahan. Mulai dari kodok sampai jangkrik.

Mitos bahwa pohon kersen tempat tinggal Kuntilanak. Tak berlaku di sini. Seklenik apa pun warga di sini tak sepobia tentang keberadaan pohon kersen. Terlepas segala macam manfaat yang ada di pohon kersen juga hanya segelintir warga yang tahu. Sebatas di manfaatkan untuk berteduh dan panjatan anak-anak kecil yang menyukai buah talok (nama lain kersen di sini)
Kopi Hitam | Foto : Nasirullah Sita,
Tenang, jika mencari tempat ngopi yang tenang dan mengutamakan percakapan langsung. Di sini tempatnya. Karena tidak ada fasilitas wifi yang diberikan. Bukan masalah apa, mayoritas bapak-bapak yang datang ngopi tidak pernah merisaukan.

Selain itu juga, warung kopi ini seolah berubah menjadi wadah informasi. Setiap kabar atau berita terbaru dapat diperoleh dari sini. Tak perlu repot-repot kita browsing di google. Karena setiap orang yang ngopi di sini dengan senang hati akan bercengkerama pelbagai hal. Mulai dari politik sebatas kulit ari sampai informasi hangat yang sedang terjadi di kampung. Paket komplit bukan?

Hal menarik selanjutnya adalah pelanggan setia yang selalu ada di sini. Orangnya sudah lumayan sepuh. Namanya Mbah Maskut, biasa dipanggil Mbah Kut. Sesepuh kampung yang sumeh. Bisa diajak ngobrol apa saja. Mulai dari perhitungan Jawa, hitungan jodoh, bahkan tak jarang ditanya masalah nomor.


Tak perlu fasilitas mewah untuk petani desa di sini. Cukup sekadar ngopi di bawah pohon kersen. Lebih dari sekadar cukup. Kalaulah kalian mampir, tentu aku ajak ngopi di sini.

Warung Kopi Masa Lalu dan Masa Kini di Desa

Add Comment
Dwi Andri Yatmo - Tidak dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia gemar sekali mengonsumsi kopi. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan Indonesia memiliki jenis kopi yang kualitasnya diakui dunia. Dengan kebiasaan orang Indonesia yang menyeruput kopi memutarkan roda perekonomian masyarakat bawah. Banyak dijumpai warung kopi di setiap pelosok Indonesia.
Warung Kopi | Foto : www.kilassumberayu.com
Waktu dulu warung kopi hanyalah warung biasa. Hanya menyediakan meja dan kursi panjang. Mayoritas yang datang juga hanya orang-orang tua. Tidak pernah dijumpai anak-anak ngopi di warung kopi kala itu. Warung kopi masa lalu identik dengan warung nongkrongnya orang-orang tua.

Saat itu kopi instan belumnya sebooming saat ini. Menu andalannya hanya kopi hitam. Kopinya pun rata-rata kopi buatan sendiri. Diproses sendiri. Masih ingat ketika dulu simbah putri membut kopi untuk simbah kakung. Simbah kakung saya memang penyuka kopi. Selepas magrib pasti sudah absen di warung kopi desa sebelah.

Biji kopi dikeringkan. Kemudian disangrai menggunakan wajan tanah liat. Dengan ditambahi potongan jagung atau potongan kelapa. Katanya untuk menambah cita rasa kopi tersebut. Selepas disangrai kemudian ditumbuh menggunakan alu di lumpang. Sampai lembut dan bercampur. Kopi pun siap diseduh.

Repot bin ribet memang. Maklum saat itu kopi sachetan belum begitu semasif sekarang ini.

Warung kopi jaman dulu digunakan sebagai tempat demokrasi. Bertukar pendapat. Mengumpat kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak pro rakyat. Hiburannya pun hanya sebuah televisi tabung atau sebuah radio merk national. Terkadang jika empu warung kopi menyediakan papan catur.

Warung kopi seolah one stop obrolan apapun. Apapun itu. Mulai dari politik, sosial, kehidupan menggarap sawah, sampai obrolan pekerjaan terkadang deal di warung kopi. Semakin banyaknya warung kopi kala itu, semakin mudah para warga untuk mendapatkan akses informasi.
Kopi Hitam | Foto : Nasirullah Sitam
Perkembangan teknologi memang tidak bisa dibendung dengan berjalannya waktu. Penetrasi internet yang mulai merambah perdesaan. Mulai merubah wajah awal warung kopi. Selain itu menjamurnya produk-produk kopi instan yang menjawab tren pasar juga mengambil andil. Pada intinya untuk menikmati segelas kopi sudah tidak perlu repot-repot lagi. Cukup sobek bungkus sachet, tuang air panas.

Warung kopi dulu citranya hanya warung bangunan sederhana. Di pinggir jalan raya bangunan seadanya dengan dinding bilik bambu mentok dinding kayu. Mulai bertansformasi. Warung kopi sekarang bertempat di ruko-ruko. Dengan bangunan yang modern. Menggabungkan konsep cafe.

Dan hal wajib yang harus disediakan setiap warung kopi saat ini. Bukanlah seberapa banyak koleksi kopi yang kalian punya. Seberapa cakap dan pintar si penyedup kopi (baca: barista) menyediakan kopi pesanan. Bukan itu semua. Melainkan wifi dan tempat yang nyaman untuk nongkrong.

Jika dua elemen tersebut tidak dipenuhi, saya yakin warung kopi tersebut bakalan sepi pengunjung. Generasi millenial sekarang ini tidak peduli seberapa enak tidaknya kopi yang mereka minum. Mereka bakalan menjawab sama.

Bahkan sebuah warung kopi ditandai layak atau tidaknya. Ramai atau tidaknya. Bukan dari segi rasa kopinya. Melainkan seberapa cepat koneksi wifinya.
Wifi sudah jadi fasilitas wajib | Foto : ruangshare.files.wordpress.com
Tidak heran warung kopi sekarang ini lebih didonimasi oleh anak-anak muda. Pesan, cari tempat duduk kalo bisa dekat colokan stop kontak, bergelit dengn smartphone mereka masing-masing.

Marwah warung kopi masa lalu sebagai tempat bersosialisasi. Bercengkerama dengan masyarakat lainnya mulai hilang. Mereka lebih sibuk dengam gadget mereka. Menghiraukan keadaan sekitar.


Warung kopi yang dulu jadi tempat demokrasi masyarakat bawah. Sudah jarang kita jumpai di kota-kota besar. Hanya ada beberapa yang masih memegang marwah tersebut. Itupun ada di pinggiran kota. Di pedesaan. Meskipun juga tidak banyak.

Tradisi Ambengan di Bulan Maulud

Add Comment
Dwi Andri Yatmo - Senja itu hujan masih enggan berhenti. Tetapi tidak menyurutkan ibu-ibu dan anak kecil untuk datang ke mushola. Sembari membawa baskom yang dibungkus dengan taplak meja. Kami biasa menyebutnya ambengan.

Selepas sholat Magrib, ibu-ibu lainnya berdatangan. Ya. Malam ini kami akan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Atau orang Jawa menyebutnya Muludan atau Mauludan. Hanya beberapa bapak-bapak saja yang datang. Sedangkan mayoritas yang memenuhi mushola adalah ibu-ibu. Dari yang jamaah sholat sampai yang tidak pernah datang ke mushola. Berkumpul jadi satu ngalab berkah.
Maulid Nabi | Foto: Didik Setiawan
Bulan Maulud selalu identik dengan bacaan sholawat baik di mushola maupun masjid. Yang berbeda dari mushola kami adalah masalah mulainya kegiatan berjanji. Berjanji sebenarnya keseleo lidah dari kata barzanji. Di mushola atau masjid lainnya kegiatan berjanji mulai dilakukan dari tanggal 1 Maulud. Sedangkan di mushola kami, ini juga instruksi dari Pak Yahya selaku kyai mushola, berjanji dilakukan mulai tanggal 12 Maulud bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seperti biasa Pak Yahya memberikan ceramah tentang kelahiran rasulullah saw. Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya ingin menyerbu Ka'bah di Mekkah. Tetapi malah hancur lebur karena serangan burung Ababil yang membaca batu dari neraka. Saat itu pulalah nabi akhir zaman dilahirkan.

Dari tahun ke tahun jamaah laki-laki di mushola selalu sedikit. Padahal dulu sewaktu saya kecil jamaah perempuan yang sedikit. Mungkin benar adanya, bahwa jumlah perempuan itu lebih banyak dibandingkan laki-laki.

"Barangsopo sing gelem sodakohke dalam perayaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, meski kuwi mung sak jumput misale. Bakalan diganti segede gunung Ukud," kata Pak Yahya menutup sesi ceramahnya.

Kemudian para jamaah semua berdiri membaca srokolan. Sudah lama sekali saya absen dalam kegiatan berjanji. Ingatan saya kembali ke puluhan tahun ke belakang ketika selesai sholat magrib bersemangat memegang mik untuk berjanji. Sampai kadang suara habis dan serak karena begitu semangatnya. Itu semua akan terobati dengan jajanan atau penganan yang akan kita terima setelahnya. Sungguh sederhana bukan.

Malam ini, seolah saya dilempar kembali ke masa itu. Aku lengkingkan suara untuk membaca ayat srokolan. Serak dan fals tidak jadi soal. Toh ini bukan kontes nyanyi. Suara habis juga bukan masalah. Itu semua bisa diobati dengan lahap ambengan yang dibawa. Sekali lagi, masih sesederhana itu.

Selesai Pak Yahya membaca doa. Aamiin. Anak-anak dan ibu-ibu antusias membuka baskom yang dibawanya. Kebanyakan membawa nasi berserta lauk pauknya. Ada juga yang membawa jajanan pasar atau penganan buatan sendiri. Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu. Saling jumput atau ambil makanan milik lainnya yang dianggap enak. Bahkan tidak jarang sebelum berangkat sudah ditandai mana-mana yang bawa makanan enak. Padahal enak tidaknya itu bukan persoalan penting, kebersamaanlah yang membuat semuanya seolah nikmat.


Inilah yang sebenarnya dibutuhkan. Kebersamaan. Meskipun kebersamaan seperti ini tidak bisa selalu kita jumpai. Tetapi inilah rahmat bulan Maulud. Rahmat bulan kelahiran Rasulullah SAW. Dengan tanpa mendeskritkan bulan-bulan lainnya. Inilah yang sesungguhnya dirindui, dikangeni oleh manusia. Saling berkumpul.

Mixtape Untuk Mereka Yang Datang di Pernikahan Mantan

Add Comment

Dwi Andri Yatmo - Beberapa bulan yang lalu sempat viral sebuah video seorang mantan yang mengamuk di pernikahan mantannya. Hingga memaksa si MC memberikan kalimat yang sangat viral sampai saat ini. “Mohon maaf ini ujian. Mohon bersabar. Ini perjuangan!”

Belum kering juga di ingatan sebuah video yang tidak kalah viralnya ketika seorang cewek datang ke pernikahan mantannya yang sudah pacaran puluhan tahun. Bahkan sampai pelukan dan pada menangis sesenggukan. Ketika menjalin hubungan puluhan tahun tentu memiliki rencana untuk ke jenjang pernikahan. Tetapi apa mau dikata, Gusti Allah berkehendak lain.

Saya yakin semua pembaca memiliki apa yang dinamakan mantan. Mantan pacar, mantan laki, mantan bini. Entah berapapun itu. Ada yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan mungkin ada yang tidak bisa dihitung karena saking banyaknya. Itu laku atau memang ngobral?

Membahas yang namanya mantan memang radak sedep-sedep gimana gitu. Karena ada dua anggapan mengenai mantan. Pertama, ada yang beranggapan mantan adalah masa lalu. Hal yang layak dilupakan. Tak ada gunanya untuk diingat-ingat atau diungkit-ungkit. Terekstrem mungkin menganggap mantan itu adalah musuh. Hapus kontak nomornya di hape. Unfriend di media sosial. Kalau perlu diblokir sekalian. Ada yang kayak gitu?

Kedua, beranggapan bahwa mantan itu sahabat, teman dan seseorang yang harus tetap dijaga silahturahminya meskipun sudah putus. Sulit memang dan jarang sekali dijumpai. Dan ada tujuan tersembunyi, apalagi kalau bukan CLBK. Kan sekali lagi kita tidak tahu. Dengan masih dekat mungkin rasa sakit perpisahan tidak begitu sakit. Karena toh kita masih bisa berhubungan. Ada yang kayak gini?

Banyak alasan yang mendasari seseorang untuk memutuskan sebuah hubungan pacaran. Banyak sekali. Lha wong dalam pernikahan yang sudah bertahun-tahun saja bisa bubar. Apalagi ini cuma sebatas pacaran. Rawan, Bung!

“Maaf kamu terlalu baik untuk aku.” Alasan badjingan yang sering dipakai untuk menolak seseorang atau memutuskan hubungan. Trus abang kudu dadi penjahat, Neng?

“Aku mau fokus sekolah dulu.” Alasan bedebah lainnya.

“Maaf kamu jelek,” atau “Maaf kamu kere!” alasan jujur tapi tetap saja guateli.

“Maaf saya sudah dijodohkan sama orangtua! Bulan depan mau nikah” :’(

Alasan termutakhir dalam mengakhiri sebuah hubungan. Makjlebnya sungguh kebangetan. Hubungan selama ini tidak direstui atau disetujui oleh orangtua. Karena orangtua itu ibarat hakim dalam sebuah persidangan. Ketika palu sudah diketok, selesai sudah hubungan.

Ya sama cerita di awal yang sudah saya sebutkan tadi. Jika si mantan tidak terima akhirnya ya ngamuk di pernikahan mantannya. Ini perbuatan bodoh dan tidak penuh perhitungan. Kan ya bisa datang ke pernikahan mantan dengan baik-baik. Itupun kalau diberi undangan. Karena 9 dari 10 mantan yang mau nikah tidak bakalan mengundang mantannya datang. Intinya sebagai kebaikan kedua belah pihak. Ya sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Lantas kalo ndilalah mantan tetap saja ngasih undangan nikahan apakah tetap perlu datang? Kamu ini orang Islam atau bukan? Sesama muslim jika diundang ya harus datang. Orak elok kalo gak datang. Berarti si mantan menganggap kalian bukan musuh atau sesuatu yang patut dilupakan. Ya datang saja. Gitu aja kok repot.

Jangan sok-sokan bawa gebetan palsu atau bayar seseorang untuk diajak ke kondangan. Kalian harus jujur pada diri sendiri. Kalau masih jomblo ya datang saja sendiri. Seolah memperlihatkan ini lho saya juga bisa move on  darimu. Jangan! Jangan pernah munafik.

Saran saja ketika datang ke pernikahan mantan, cek terlebih dahulu di undangan apakah kolom hiburan diisi. Kebanyakan orang punya gawe nanggap hiburan musik. Dangdutan. Bisa mulai dari dangdut lesehan, organ tunggal, sampai dangdut panggung. Kalau di kolom hiburan diisi dangdutan. Kamu patut bersyukur alhamdulillah. Sumbanglah sebuah lagu dangdut.

Kenapa dangdut? Lagu ini lagu merakyat. Diterima semua lapisan semua masyarakat Indonesia. Dengar suar ketipung tubuh siapa yang tidak mau gerak. Ujung-ujung bakalan joget jika tidak malu-malu. Daripada harus ngamuk gak karuan yang tentu merugikan diri kalian sendiri. Lhakyo mending nyanyi. Ungkapkan semua isi lagi lewat lagu. Yakinlah bahkan orang Indonesia karaoke itu 99% curhat sisanya 1% nyanyi.

Lha kalo semisal di undangan tidak ada hiburan? Kalau semisal kalian kelebihan duit, sewa saja organ tunggal untuk mengiringi. Orangtua mantan mungkin malah bersyukur kamu menyumbang hiburan di pernikahan anaknya. Gratis pula.

Anggap saja, pernikahan mantan kalian ada hiburan dangdutnya. Lantas berikut ini saya berikan pilihan beberapa lagu yang cocok kalian nyanyikan di hadapan mempelai berdua. Urusan suara kalian fals, cempreng atau jelek urusan belakangan.


1. Kandas – Evie Tamala
Lagu ini seolah menjadi lagu wajib bagi mereka yang berakhir hubungan. Kandas, Bung! Ditinggal nikah duluan sama mantan apapun itu alasananya. Kelamaan nglamar misalnya, memang menyakitkan. Padahal selama ini sudah kerja keras banting tulang demi-semata-hanya mantan tak tahu diuntung itu. 

Eh, giliran pulang dengan membawa sebongkah berlian, si mantan malah udah dilamar orang.  Lagu Kandas ini pantas untuk dinyanyikan di pernikahan mantan pacar. Lebih syahdu lagi jika si mantan itu mau diajak duet nyanyi bersama. Berpegangan tangan. Terus sampai pelukan sesenggukan sembari menyanyikannya.

Sesal kian mendera
akhir sudah cerita kini kau telah berdua
itu kenyataannya
bila saja kutahu bahwa kesetiaanmu begitu dalam padaku
takkan aku mengingkari janjiku

Sekian lama kucari dirimu kasih
dari waktu ke waktu kucari
hingga putus asa diri ini
Dan betapa kusesali yang telah terjadi
kekasih yang paling kucintai kini terluka hati


2. Delima – Jotha RG & Yulia Citra
Jika kita sudah bekerja keras, bahkan sampai rela jadi TKI di luar negeri sono. Pulang ke kampung halaman membawa uang segepok untuk melamar si doi. Lha kok malah si doi ini menikah duluan. Sakit memang.

Terkadang realita tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Badjingan sebadjingan-badjingannya. Lagu ini cocok dinyanyikan berduet. Ajak si mantan untuk ikutan bernyanyi.

Delima oh delima
sambutlah 'ku datang
dengan senandung lagu melayu

Delima oh delima
aku tak menyangka
kiranya dirimu telah berdua


3. Cidro – Didi Kempot
Dikhianati itu memang paling menyakitkan. Apalagi si mantan berkhianat lantas menikah dengan oranglain. Kayak dihujani ribuan pisau di dada. Kita sudah percaya kepada dia. Tetapi ujung-ujung malah dikhianati lantaran permasalahan materi. 

Dia berkhianat karena memilih ornaglain yang lebih tajir. Lebih sugeh. Mas Didi Kempot ini bisa dikatakan sudah khatam dalam hal perasaan dikecewakan. Salah satunya ya melalui lagi Cidro ini. Sangat layak dinyanyikan di pernikahan mantan durjana itu.

Gek opo salah awakku iki
Kowe nganti tego mblenjani janji
Opo mergo kahanan uripku iki
Mlerat banda seje karo uripmu


4. Kelingan Mantan – NDX AKA

Kebanyakan persoalan asmara terhalang restu dari orangtua. Terutama dari pihak ibu, walau tak jarang juga datang dari pihak ayah. Ya tugas kita meyakinkan bagaimana pihak orangtua doi bahwa kita bisa membahagiakan anaknya.

Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Tetapi jika semua usaha sudah kita lakukan tetapi hasilnya juga akhirnya berpisah. Berikan motivasi kepada diri bahwa kalian memang tidak jodoh. Sembari misuh juga tidak apa-apa. Lagu ini cocok sekali dibawakan di pernikahan mantan. Syukur-syukur kalian membawa pasukan joget Temon Holic. Biarlah lagu ini mengiringi kebahagian mantan.

Dek koe mbiyen janji karo aku
Nglakoni tresno suci kanthi ikhlas tekan mati
Neng nyatane ngapusi, cidro ati iki
Netes elohku mili deres neng pipi

Cewek:
Mas pangapurane kanggo awakku
Mergani tresno iki tak direstui ibuku
Aku mblenjani janji cinta kita ini
Lilakno aku kanti ikhlas ati, lilakno aku kanti ikhlas ati


5. Loro Ati – NDX AKA
Idem di atas. Bisa dipakai sebagai alternatif jika lirik lagu di atas tidak hafal-hafal betul.

Cidro mergo sliramu
Jarene tresno aku
Nanging kowe ninggalke aku
Kabeh janjimu mung palsu

Kowe pancen tego
Medot talining asmoro
Lorone ati nganti ra biso ditambani
Tresnaku iki ora bakal direstoni
Nyang wong tuomu nganti tekan aku mati

Cewek:

Pangapurane mas
Aku wes ninggal kowe

Dudu karepku,ku mung manut bapak ibu

Kabeh mau gawe cidro ning atimu

Mergane aku dijodokke wong tuoku


6. Angge-angge Orong-orong – Didi Kempot & Dewi Angin angin

Percayalah bahwa pacaran adalah hubungan yang rawan. Rawan putus bung! Wong hubungan yang didasari komitmen saja terkadang harus oleng di tengah jalan. Ya. Bercerai. 

Jika ndilalah kalian dapat undangan mantan bini atau laki yang menikah lagi, lagu ini sangatlah pas dibawakan. Sangat sesusai dengan kondisi yang kalian rasakan. Sekali menikah dapat langsung satu paket dengan anak-anak yang diperoleh dari pernikahan sebelumnya.

Angge-angge orong-orong
Ora melok nggawe melok momong
Rondo randane ompong
Nduwe anak sak gede kingkong
Angge-angge orong-orong
Ora melok nggawe melok momong

7. Tewas Tertimbun Mantan (TTM) – NDX AKA
Saya kok heran duo (NDX AKA) ini lagunya semua patah hati. Tapi ya bagaimana lagi, lagu-lagunya cocok dengan apa yang ada di realita sekarang ini. Terutama yang dialami para jomblo-jomblo. Saya juga sih. Seseorang yang pernah singgah di dalam hidup kita ketika memutuskan untuk menghilang dari kehidupan memang memilukan.

Ujung-ujungnya seperti di atas sebelumnya ijin orangtua. Bagi kalian yang berpendirian bahwa tetap berusaha sebelum janur melengkung pas dengan lagu satu ini. Kalaupun sudah melengkung kan bisa diluruskan dengan disetrika, Mas! Durung sempet tak rabeni kowe Dik! Lha kok wis mblenjani janjimu to Dik! Uasuu

Aku ra iso lali, udan grimis sing dadi seksi
Durung sempet tak rabeni janjimu wis tok blenjani

Kowe tau ning uripku...
Tansah ono ning atiku
Ra bakal luntur sak durunge...
Janur kuning melengkung
Opo kowe ra kelingan...
Mbiyen mlaku bebarengan
Ibarat langit karo rembulan...
Tresnaku ra bakal ilang...
Sayang...


8. Kimcil Kepolen – NDX AKA
Benar pepatah anak muda saat ini, Jarene rak Ninja rak ono dicinta. Jarene rak (satria) Fu Ora I Love You. Terkadang banyak wanita yang orientasinya hanya materi, maetri dan materi. Dan kalo kalian kere atau miskin, mesti dipandang sebelah mata.

Banyak yang ingin mencari pasangan mapan sandang, pangan dan papan. Lha yang mapan itu rata-rata sudah menikah je. Inilah kesalahkaprahan dalam melihat pernikahan. Menikah itu ya berjuang bersama untuk sukses. Jika mantan kalian meninggalkan lantaran perkoro bondo nyanyikan saja lagu ini. Uasu og!

pancene koe pabu nuruti ibumu
jare nek ra ninja ra oleh dicinta
opo koyo ngene susahe wong kere
ameh nyandeng tresno kalah karo bondo

jaremu nek ra fu koe ora i love you
jaremu nek ra ninja koe ora cinta
nanging pie meneh aku wong ra nduwe
kalah bondo menang rupo kuwi saklawase


9. Jambu Alas – Didi Kempot
Move on memang bukan perkara mudah. Gampang memang diucapkan tapi terkadang melakukannya setengah modyar sulitnya. Momen krtitis Bung! Ibarat nila setitik rusak susu sebelangga. Rusak move on lantara sms “lagi apa?” atau “ketemuan yuk!”. Itu mending mantan belum nikah.

Lha kalo putus lantaran menikah dengan oranglain tetapi ketikas rasa sayangnya sedang banyak-banyaknya. Mampus dah! Tak apa. Jika kalian beranggapan bahwa kalo jodoh tidak akan kemana cocok sekali dengan lagu satu ini. Tidak peduli apa yang terjadi saat ini, optimis saja menunggu sampai dia ceras, hahaha

Jambu alas kulite ijo
sing digagas wes duwe bojo
Ada gula ada semut
durung rondho ojo direbut

Jambu alas nduk
manis rasane
Snajan tilas
tak enteni rondhone


Lantas ketika sudah datang ke kawinan mantan apakah perlu nyumbang pake amplop? Hahaha kalian ini guoblok atau gimana sih? Ya kalo mau jadi mantan yang sehormat-hormatnya dan sebaik-baiknya ya tidaklah. Lha kalian ini tidak diundang tapi mekso datang je. Ngerusak pemandangan dan suasana saja!

Semua Pasti Ada Hikmahnya

Anonymous Add Comment

Sudah lama tidak menyapa di blog ini. Ketika ditanya peristiwa apakah yang paling disesali? Kalaupun bisa berputar ingin sekali diulangi kembali? Adalah ketika mendaftar di KAI (Kereta Api Indonesia). Karena menurut saya itu merupakan perjuangan sekali. Banyak yang dikorbankan pada saat itu.

Bulan Mei akhir tahun 2016, saya memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa tempat. Salah satunya di PT KAI. Ketika keluar pengumuman dari KAI nama saya sepertinya enggan nangkring. Alhasil dinyatakan tidak lolos. Yang namanya rejeki memang tidak ada yang bias menebak. Akhirnya ada telepon dari PT Suprama – produsen mie burung dara- bahwa dinyatakan lulus wawancara dan diharuskan mengikuti training selama 3 bulan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil yang di PT Suprama lantaran tinggal menghitung hari sudah masuk bulan puasa Ramadhan. Buat sangu nanti lebaran.

Seminggu di Sidoarjo, ndilalah ketika pulang dari kantor ada sms masuk. Kluntingg.

Anda diharapkan kedatangannya besok untuk mengikuti tes kesehatan pertama di PT Kereta Api Indonesia.

Bingung sumpah. Apakah harus mengambil tawaran tes kesehatan di PT KAI atau tetap stay di Sidoarjo selama 3 bulan ke depan. Saat itu sudah masuk bulan puasa Ramadhan. Akhirnya saya berkonsultasi dengan salah satu keluarga di Semarang mengenai ini. Apa yang harus saya lakukan.

Saya pun memutuskan untuk mengambil tantang tersebut dengan konsekuensi harus ijin di sini (Sidoarjo).  Perlu diketahui perjalanan Sidoarjo – Semarang kurang lebih 8 jam naik bus. Berangkat dari Sidoarjo jam 5 lebih, sampai di Semarang paling tidak Subuhan. Habis di jalan memang. Tapi ya bagaimana lagi.

Singkat kata, tes kesehatan awal lolos. Sampai tes tertulis, tes wawancara sampai tes kesehatan akhir. Karena wawancara dan tes kesehatan akhir dilaksanakan setelah lebaran. Saya pun memutuskan untuk resign dari PT Suprama. Gambling memang. Tapi memang harus dipilih salah satu.

Drama pun terjadi. Ketika wawancara dan tes kesehatan akhir, kartu tes saya masih ketinggalan di Sidoarjo sana. Ya Allah, sampai segitunya perjuangan ini. Ketika tes wawancara saya sudah lillahi ta’ala Karena kartu tes tidak ada. Sempat eyel-eyelan dengan petugas yang mewawancarai. Akhirnya saya diperbolehkan mengikuti tes wawancara. Sambal mencari informasi dari rekan yang masih di Sidoarjo sana. Siapa tahu mereka ada yang mengetahui keberadaan kartu tes tersebut.

Pengumuman wawancara dikeluarkan pukul 18:30 malamnya. Jadi seharian harus menunggu pengumuman keluar. Alhamdulillah ada nama saya di nomor 1. Dan ada kabar dari Sidoarjo sana bahwa kartu tes saya ditemukan di salah satu buku yang tertinggal di pabrik. Alhamdulillah kuadrat saat itu. Tetapi masalah muncul lagi?

Kok masalahnya tidak kelar-kelar ya. Tes Kesehatan akhir dilakukan lusa. Mau tidak mau mala mini juga harus segera ke Sidoarjo untuk mengambil kartu tes. Berarti seharian dihabiskan di perjalanan. Mana tadi salah satu petugase ngaish instruksi harus bersihkan karang gigi segala. Gimana bias kecandak semua. Ya Allah.

Mana lagi di saku uang tinggal 50 ribu. Bingung, sumpah bingung. Uang hanya cukup untuk sekali jalan. Pulangnya terus bagaimana? Terbesit untuk motoran ke Sidoarjo. Pilihan bodoh, mana kuat motoran 8 jam sendirian.

Saya putuskan untuk tetap naik bus, motor saya titipkan di rumah salah satu teman di Pati. Saya putuskan langsung untuk tidur. Badan sudah capek seharian wawancara dan debat dengan pewawancaranya. Untuk diskusi wawancaranya bias baca di salah satu artikel sebelumnya.

Paginya sampai juga di Sidoarjo, dan kalain tahu? Tidak bayar sama kondekturnya. Kebesaran Allah SWT. Ketika kita yakin akan sesuatu, Allah akan membukakan jalan-Nya sendiri. Setelah kartu tes sudah di tangan, siangnya saya putuskan untuk pulang. Paling tidak malam sampai di Pati. Kemudian balik ke Purwodadi.

Salah satu instruksi dari petugas kemarin diharuskan puasa mulai dari jam 10 malam sampai tes kesehatan dilaksanakan. Semua mepet sekali. Hingga akhirnya anjuran untuk membersihkan karang gigi tidak terlaksanakan. Selain Karena waktu juga Karena keterbatasan dananya. Lillahi ta’ala lagi.

Keseokan paginya, tes kesehatan akhir terlewati. Lagi-lagi diharuskan menunggu beberapa minggu menanti pengumuman. Saya sudah pesimis kala itu. Karena ketika pemeriksaan gigi, saya sempat lihat bahwa petugasnya tidak meloloskan saya. Bodoh memang. Ternyata benar anjuran salah satu petugas kemarin. Bersihkan itu karang gigimu.

Nasi sudah menjadi bubur. Semua perjuangan di atas harus sia-sia. Apakah saya down? Pastinya. Tapi kalaupun disesali terus apakah hasilnya berubah? Tidak. Karena mungkin memang rejeki saya tidak di sana. Sekuat apapun kalau rejeki kita tidak di sana, ya bakalan tidak keterima. Pembelajaran tersebut merasuk ke dalam diri saya. Yakinlah bahwa rencana Allah SWT lebih indah daripada rencana-rencana hamba-Nya.

Selang beberapa bulan, salah satu teman dulu yang pernah kerja di koperasi (usaha Riba) tumben-tumbennya ngechat. Tanya sekarang lagi kerja dimana?

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya direkomendasikan oleh teman tersebut ke bosnya. Singkat cerita saya diterima kerja di sana. Harus balik lagi ke Semarang untuk merantau. Ya Salam.

Rencana Allah memang lebih indah. Terkadang apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk di mata Allah. Camkan itu pada diri kita. Ikuti saja alur indah dari Allah. Jalani, jalani, dan syukuri.

Di tempat kerja baru ini, saya diberikan kesempatan untuk berkeliling kota Jawa. Jakarta, Bekasi, Depok, Surabaya, Malang, Jogjakarta dan masih banyak lagi. Tidak terbesit sebelumnya saya bisa melakukannya.

Dan untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang juga lantaran bekerja di sini. Belum tentu ketika diterima di KAI saya bisa melakukannya. Rencana Gusti Allah lebih cantik bukan?

Semua pengalaman dan hal baru saya temukan di sini. Sembari belajar hal-hal baru juga. Dan saya yakin semua itu tidak mungkin saya dapatkan jika diterima di KAI.

Sekali lagi ada hikmah yang Allah selipkan di setiap ujian-Nya. Husnudzon terhadap rencana-Nya.

Panjang ya ternyata curhatan kali ini. Padahal itu semua saya ambil garis besarnya. Kalau bloko suto mungkin lebih panjang dari ini.

Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan sederhana ini. Semua pasti ada hikmahnya.