Loading...

Mampir Ke Bakmi Jowo Mas Ayu Jilid II

Add Comment
Dwi Andri YatmoSebenarnya kalau dikatakan jilid II sih tidak juga, karena ini adalah kesekian kalinya saya datang ke sini lagi. Kalau yang pertama mungkin bisa rekan-rekan baca lagi di sini Mampir ke Bakmi Jowo Mas Ayu. Oh ya sekadar memberitahukan ternyata jika kalian googling di maps yang keluar adalah Bakmi Jowo Mbak Ayu. Entah siapa yang pertama kali membuatnya.
Spanduk depan warung Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo
Untuk spanduk masih seperti terakhir saya ke sini. Masih sama. Tidak ada yang berubah. Yang berubah hanya ada tambahan dua karyawan yang masih muda membantu dua karyawan yang selama ini saya kenal. Siapa lagi kalau bukan si Ucil sama si Kirno.

Si Ucil salah satu karyawan Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo
"Lho No, kamu balik lagi ke sini?" tanyaku kepada Kirno. Karena terkahir kali si Kirno memutuskan keluar untuk merantau ke Jakarta. Katanya ingin mencari penghasilan yang lebih. Ujung-ujungnya juga balik ke sini lagi.

"Iya Mas, habis lebaran ke sini lagi."

Suasana ruangan juga masih terlihat sama. Hanya warna cat yang terlihat baru. Pak Sumardi tidak terlihat membantu jualan. 

Salah satu pembeli Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo

Televisi hiburan satu-satunya di Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo

"Bapak kemana, Cil?"

"Masih di atas Mas. Perlu saya panggilkan?" tawar Ucil

Saya hanya menggelengkan kepala. Mmapir ke sini juga hanya ingin melepas kangen akan rasa makanan nasi ruwet godog. 

"Cil, pesan seperti biasa ya!"

"Oke!"

Saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih baru tinggal di kota ini, Semarang. Saat itu diajak makan sama teman mencari bakmi jowo. Itu pertama kalinya saya mendengar dan akan makan makanan yang say asendiri masih awam.

Awalnya saya menduga bakmi jowo itu tidak jauh berbeda dengan mie ayam. Itu anggapan saja waktu itu. Jadi ya saya iyakan saja tawaran tersebut. Ternyata eh ternyata, anggapan saya tersebut bertolak belakang 180 derajat.

"Ini makanan apa coba?" batin saya waktu itu.

Itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan yang namanya bakmi jowo, Maklum di desa tidak ada yang namanya bakmi jowo. Adapun ada hanya mie ayam sama mie tektek. Lucu memang, awal pertama kali saya seolah tidak suka dengan makanan satu ini. Tetapi lambat laun malah bisa dibilang selalu mencari makanan ini. Ah, cinta pada pandangan pertama sepertinya tidak terjadi di saya untuk bakmi jowo ini, hehehe

Lamunan saya buyar ketika si Ucil datang membawakan pesanan saya. 

Nasi Ruwet Godog | © Dwi Andri Yatmo
"Nasi ruwet godog tanpa telor, pedasnya sedengan"

Saya hanya tersenyum.

Ah ya, kenapa saya memilih pedas sedengan. Karena pada dasarnya kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam semua hal. Sedang-sedang saja. Karena toh jika kurang pedas ada beberapa butir cabe yang sudah disiapkan di atas meja. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sepertinya rindu ini akan segera terobati dengan masuknya satu suap demi suap makanan yang sudah tersaji di depan mata. Mari menikmati hidup dengan bahagia.

Salam Puinuk

Ngopi di Bawah Pohon Kersen

Add Comment
Dwi Andri YatmoLetaknya memang tidak mencolok dari jalan utama desa. Hanya bangunan dari bambu dan beratap asbes. Depannya diapit dua buah pohon kersen. Tak lupa angkruk nangkring di bawahnya. Sebagai destinasi utama untuk menikmati kopi.
Pohon Kersen Depan Warung  | Foto : huzenify.blogspot.co.id
Orang sekitar lebih suka menyebutnya KPK. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan lembaga rasuah negara. Hanya saja namanya yang mirip. KPK singkatan dari Komunitas Pecinta Kopi.

Sebagai gambaran saja, kampungku berbentuk letter L dengan arah pandang langsung ke persawahan membentang.

Inilah satu-satunya warung kopi yang ada di sini. Mayoritas profesi warganya masih sebagai petani. Setiap malam tiada hiburan kalau bukan ngopi di warung KPK.

Masalah harga tidak perlu risau. Satu gelas kopi kothok hanya 2ribu rupiah. Sangat sangat terjangkau untuk para petani yang penghasilannya tidak tentu.

Kita bisa menikmati segelas kopi dengan leyeh-leyeh di angkruk persis bawah pohon kersen. Selain itu jika beruntung kita dapat bonus iringan suara musik alam dari persawahan. Mulai dari kodok sampai jangkrik.

Mitos bahwa pohon kersen tempat tinggal Kuntilanak. Tak berlaku di sini. Seklenik apa pun warga di sini tak sepobia tentang keberadaan pohon kersen. Terlepas segala macam manfaat yang ada di pohon kersen juga hanya segelintir warga yang tahu. Sebatas di manfaatkan untuk berteduh dan panjatan anak-anak kecil yang menyukai buah talok (nama lain kersen di sini)
Kopi Hitam | Foto : Nasirullah Sita,
Tenang, jika mencari tempat ngopi yang tenang dan mengutamakan percakapan langsung. Di sini tempatnya. Karena tidak ada fasilitas wifi yang diberikan. Bukan masalah apa, mayoritas bapak-bapak yang datang ngopi tidak pernah merisaukan.

Selain itu juga, warung kopi ini seolah berubah menjadi wadah informasi. Setiap kabar atau berita terbaru dapat diperoleh dari sini. Tak perlu repot-repot kita browsing di google. Karena setiap orang yang ngopi di sini dengan senang hati akan bercengkerama pelbagai hal. Mulai dari politik sebatas kulit ari sampai informasi hangat yang sedang terjadi di kampung. Paket komplit bukan?

Hal menarik selanjutnya adalah pelanggan setia yang selalu ada di sini. Orangnya sudah lumayan sepuh. Namanya Mbah Maskut, biasa dipanggil Mbah Kut. Sesepuh kampung yang sumeh. Bisa diajak ngobrol apa saja. Mulai dari perhitungan Jawa, hitungan jodoh, bahkan tak jarang ditanya masalah nomor.


Tak perlu fasilitas mewah untuk petani desa di sini. Cukup sekadar ngopi di bawah pohon kersen. Lebih dari sekadar cukup. Kalaulah kalian mampir, tentu aku ajak ngopi di sini.

Warung Kopi Masa Lalu dan Masa Kini di Desa

Add Comment
Dwi Andri YatmoTidak dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia gemar sekali mengonsumsi kopi. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan Indonesia memiliki jenis kopi yang kualitasnya diakui dunia. Dengan kebiasaan orang Indonesia yang menyeruput kopi memutarkan roda perekonomian masyarakat bawah. Banyak dijumpai warung kopi di setiap pelosok Indonesia.
Warung Kopi | Foto : www.kilassumberayu.com
Waktu dulu warung kopi hanyalah warung biasa. Hanya menyediakan meja dan kursi panjang. Mayoritas yang datang juga hanya orang-orang tua. Tidak pernah dijumpai anak-anak ngopi di warung kopi kala itu. Warung kopi masa lalu identik dengan warung nongkrongnya orang-orang tua.

Saat itu kopi instan belumnya sebooming saat ini. Menu andalannya hanya kopi hitam. Kopinya pun rata-rata kopi buatan sendiri. Diproses sendiri. Masih ingat ketika dulu simbah putri membut kopi untuk simbah kakung. Simbah kakung saya memang penyuka kopi. Selepas magrib pasti sudah absen di warung kopi desa sebelah.

Biji kopi dikeringkan. Kemudian disangrai menggunakan wajan tanah liat. Dengan ditambahi potongan jagung atau potongan kelapa. Katanya untuk menambah cita rasa kopi tersebut. Selepas disangrai kemudian ditumbuh menggunakan alu di lumpang. Sampai lembut dan bercampur. Kopi pun siap diseduh.

Repot bin ribet memang. Maklum saat itu kopi sachetan belum begitu semasif sekarang ini.

Warung kopi jaman dulu digunakan sebagai tempat demokrasi. Bertukar pendapat. Mengumpat kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak pro rakyat. Hiburannya pun hanya sebuah televisi tabung atau sebuah radio merk national. Terkadang jika empu warung kopi menyediakan papan catur.

Warung kopi seolah one stop obrolan apapun. Apapun itu. Mulai dari politik, sosial, kehidupan menggarap sawah, sampai obrolan pekerjaan terkadang deal di warung kopi. Semakin banyaknya warung kopi kala itu, semakin mudah para warga untuk mendapatkan akses informasi.
Kopi Hitam | Foto : Nasirullah Sitam
Perkembangan teknologi memang tidak bisa dibendung dengan berjalannya waktu. Penetrasi internet yang mulai merambah perdesaan. Mulai merubah wajah awal warung kopi. Selain itu menjamurnya produk-produk kopi instan yang menjawab tren pasar juga mengambil andil. Pada intinya untuk menikmati segelas kopi sudah tidak perlu repot-repot lagi. Cukup sobek bungkus sachet, tuang air panas.

Warung kopi dulu citranya hanya warung bangunan sederhana. Di pinggir jalan raya bangunan seadanya dengan dinding bilik bambu mentok dinding kayu. Mulai bertansformasi. Warung kopi sekarang bertempat di ruko-ruko. Dengan bangunan yang modern. Menggabungkan konsep cafe.

Dan hal wajib yang harus disediakan setiap warung kopi saat ini. Bukanlah seberapa banyak koleksi kopi yang kalian punya. Seberapa cakap dan pintar si penyedup kopi (baca: barista) menyediakan kopi pesanan. Bukan itu semua. Melainkan wifi dan tempat yang nyaman untuk nongkrong.

Jika dua elemen tersebut tidak dipenuhi, saya yakin warung kopi tersebut bakalan sepi pengunjung. Generasi millenial sekarang ini tidak peduli seberapa enak tidaknya kopi yang mereka minum. Mereka bakalan menjawab sama.

Bahkan sebuah warung kopi ditandai layak atau tidaknya. Ramai atau tidaknya. Bukan dari segi rasa kopinya. Melainkan seberapa cepat koneksi wifinya.
Wifi sudah jadi fasilitas wajib | Foto : ruangshare.files.wordpress.com
Tidak heran warung kopi sekarang ini lebih didonimasi oleh anak-anak muda. Pesan, cari tempat duduk kalo bisa dekat colokan stop kontak, bergelit dengn smartphone mereka masing-masing.

Marwah warung kopi masa lalu sebagai tempat bersosialisasi. Bercengkerama dengan masyarakat lainnya mulai hilang. Mereka lebih sibuk dengam gadget mereka. Menghiraukan keadaan sekitar.


Warung kopi yang dulu jadi tempat demokrasi masyarakat bawah. Sudah jarang kita jumpai di kota-kota besar. Hanya ada beberapa yang masih memegang marwah tersebut. Itupun ada di pinggiran kota. Di pedesaan. Meskipun juga tidak banyak.

Pizzanya Orang Purwodadi

Add Comment
Dwi Andri Yatmo - Bicara kuliner Purwodadi, selalu identik dengan Swieke dan Sayur Becek. Walau sebenarnya masih banyak kuliner yang belum terekspos. Wajar, memang hanya kedua makanan itu yang seolah paling menjadi makanan khas Kota Purwodadi. Tapi saya tak sedang membahas keduanya di sini, lain waktu saja.

Kali ini saya akan membahas tentang Pizza. Yap benar: Pizza. Haisss “Iku kan makanannya orang Italia, Mas?” Memang benar. Itu bukan kuliner asli orang Indonesia, apalagi Purwodadi. Dan, penjualan pizza selalu disangkutkan dengan Pizza Hut. Padahal, kini banyak juga gerai-gerai western yang menawarkan menu serupa.
Tapi sayangnya, di Purwodadi tak ada gerai Pizza Hut. Boro-boro PHD, PH nya saja belum ada. Apakah miris? Ya enggak juga sih. Lha wong lidah orang Purwodadi lebih menyukai sambel daripada jenis makanan dari tepung itu. Akan tetapi, justru karena kekosongan penjual pizza itulah yang membuat peluang usaha ini lumayan menjanjikan.
Sebelum terlalu jauh, saya mau meluruskan sedikit. Purwodadi itu bukan nama kapubaten. Nama kabupatennya adalah Grobogan, sedangkan Purwodadi adalah ibu kota pemerintahan. Umumnya orang kebalik-balik. Tapi ya mau bagaimana lagi, seolah kesalahan tersebut sudah mendarahdaging dalam anggapan banyak orang.
Oke. Kembali ke pizza. Belakangan, usaha-usaha lokal yang menjajakan menu pizza mulai bermunculan. Salah satu pemain tersebut bernama Sunset Pizza. Pemiliknya bernama Nasirhun Ramadhan, biasa dipanggil Run. Model jualannya masih dari rumah, belum memiliki kios atau ruko. Semua dikerjakan dari rumah. Model pemasarannya saat ini masih sebatas PO, alias elo pesan ane buatin dan ane anter.
Sunset Pizza menerima permintaan tertentu | © Sunset Pizza

Pizza Chicken Blackpepper | © Sunset Pizza
Entah ada angin apa, terbesit keinginan untuk sekadar mencoba pizza. Kebetulan si empunya Sunset Pizza, Mas Run, bisa diajak ngobrol perihal usaha yang digelutinya ini.
“Kenapa memilih jualan pizza, Mas? Ini Purwodadi lho, lidahnya lebih suka rempah-rempah”.
Beliau hanya tersenyum kemudian tertawa.
“Ceritanya puanjang. Puanjang banget. Saat itu selepas lulus SMA saya bingung mau kerja apa. Akhirnya ada teman yang ngajakin kerja di resort Pantai Bandengan, Jepara. Waktu itu masih jadi buruh cuci resort. Namanya Sunset Resort. Ya tahulah, bagaimana kerjanya jadi orang yang disuruh-suruh.”
Kami berdua ngobrol di depan rumahnya di bawah pohon kersen, sembari menunggu pesanan saya matang. Kebetulan yang membantu membuat pizza adalah istrinya.
“Akhirnya beberapa tahun, saya naik ke dapur. Sudah tidak jadi buruh cuci. Bantu-bantu nyiapin piring dan sebagainya. Dari sana saya berjanji untuk belajar memasak. Setiap koki saya perhatikan cara memasaknya. Ketika pulang saya catat semua yang sudah diperoleh.”
“Oh ya resort tersebut yang punya orang Italia asli. Saya sudah lupa namanya. Waktu itu saya juga bantu-bantu bagian makanan western Italia, spageti dan pizza. Dari situ saya mulai belajar membuat pizza. Akhirnya saya diangkat jadi koki pizza karena koki sebelumnya resign.”
“Apakah setelah resign dari sana Mas Run langsung berjualan pizza sampai saat ini?”

Kabupaten Grobogan adalah kabupaten terbesar kedua setelah Kabupaten Cilacap dalam hal luas wilayah. Tapi entahlah, Grobogan agaknya tak begitu begitu populer ketimbang kabupaten-kabupaten tetangganya. Blora terkenal karena karya-karya Pram. Rembang terangkat karena nama Puthut EA. Apakah Grobogan juga harus lebih dulu memiliki penulis sekaliber nasional atau internasional agar bisa terkenal?
“Ketika resign dari sana, saya bingung harus kerja apa lagi. Hingga memutuskan berjualan bubur kacang ijo.”
Nashirun Ramadhan si Empu Sunset Pizza | © Sunset Pizza
Saya sedikit kaget. Ilmunya membuat pizza kenapa malah memilih bubur kacang ijo.
“Waktu itu pizza belum populer di sini, walau sekarang juga belum populer, hehe. Intinya dulu belum berani mengambil risiko dalam usaha. Takut tidak diterima pasarlah, takut tidak lakulah. Itulah yang sebenarnya menghambat kita untuk maju. Menyerah sebelum berperang.”
Namun belakangan saat, mengikuti kepindahan istri ke Rembang, usaha bubur kacang ijonya juga berhenti. Berawal dari situlah niatan untuk membuka usaha pizza kembali ada.
“Alasan apa sih mas yang mendasari buka usaha pizza di Purwodadi?”
“Ya paling utama sih cari rejeki untuk keluarga. Selain itu adalah ingin menerapkan ilmu yang sudah diperoleh puluhan tahun lalu. Dan yang tidak kalah penting adalah memberikan kesempatan untuk warga Purwodadi bahwa menyantap pizza tidak perlu bayar mahal.”
“Kenapa optimis pizza bikinan Mas Run pasti diterima masyarakat sini?”
Pizza Chicken Corn | © Sunset Pizza

Pizza Beef and Mushroom | © Sunset Pizza
Untuk kesekian kalinya, orang yang saya ajak bicara tertawa dan tersenyum. Bapak satu anak ini sesekali memandangi layar hape. Mengecek orderan yang masuk via BBM dan Whatsapp.
“Bukannya mau sombong atau gimana ya, Mas. Tapi ketika di resort Sunset dulu, saya diajari oleh orang Italia langsung. Sekaligus pemiliknya. Dan dia memuji roti bikinan saya paling enak. Itu poin pertama. Poin selanjutnya, kalau boleh jujur, saya melalukan sedikit modifikasi atas pizza saya. Kalau menuruti rasa orisinil pizza sana, saya yakin lidah orang ndeso seperti kita akan sedikit tidak familiar. Jadi racikan yang saya gunakan sudah saya sesuaikan dengan lidah orang sini. Tentu tanpa mengurangi esensi dari pizza tersebut yaitu Keju Mozarella.”
“Lantas tanggapan tentang Sunset Pizza bagaimana, Mas?”
Alhamdulillah, istri dari Mas Run keluar membawakan satu pizza pesanan saya. Pizza masih terlihat mengepulkan asap. Ini juga yang selalu Mas Run jaga, agar pizza tetap hangat hingga sampai di konsumen. Sebab, katanya, waktu paling tepat untuk menyantap pizza adalah saat mengepul.
Tanpa babibu kami pun langsung menyantap pizza.
“Alhamdulillah banyak yang order. Karena dari saya sendiri memberikan ongkos kirim gratis untuk sekitaran Purwodadi kota. Kalau memang rumahnya jauh, biasanya saya memberikan tambaham 10.000 sebagai ganti bensin. Jadi saya berharap orang desa pun bisa merasakan apa itu pizza. Tanggapannya rata-rata sama. Mereka suka dengan rasa yang saya tawarkan. Bahkan katanya lebih enak dari pizza-pizza lainnya. Itu bukan sombong lho ya, hehe..”
“Apakah ada hal menarik yang pernah terjadi selama menggeluti usaha ini Mas?”
“Banyak sekali. Mulai dari yang tanya ‘itu pizzanya besarnya berapa, Mas?” sampai pernah itu sekali mengantar pizza sampai ke desa pelosok. Saya awalnya mengira tempatnya dekat, lha kok ternyata naudzubillah jauhnya. Itulah warna dalam berusaha. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil.”
Meski belum memiliki lapak untuk berjualan, tak membuat Sunset Pizza sepi orderan. Bahkan sampai malam ada juga yang masih memesan pizza. Hingga Mas Run memutuskan waktu order mulai pukul 10.00 – 17.00 WIB.
“Rejeki sudah diatur Allah Swt., kenapa harus ngoyo? Dulu pesanan malam pun saya ambil. Tetapi ke sini-sini sudah saya tolak. Buat 24 jam dibuat kerja. Ada kalanya waktu untuk keluarga juga penting. Lha kapan kamu nikah?”
Tiba-tiba suasana jadi hening.
Untuk harga tenang sobat, tidak sampai menguras kantong kok. Aman juga untuk sekadar traktiri teman-teman, gebetan atau calon mertua. Mulai dari harga 30.000 – 50.000, tergantung toping apa yang diinginkan. Jika rekan ada yang ndilalah main ke Purwodadi, bolehlah kabar-kabar, kita ngopi sembari menikmati pizza dari Sunset Pizza.

Dimuat di Minumkopi.com tanggal 10 Agustus 2017

Tradisi Ambengan di Bulan Maulud

Add Comment
Dwi Andri YatmoSenja itu hujan masih enggan berhenti. Tetapi tidak menyurutkan ibu-ibu dan anak kecil untuk datang ke mushola. Sembari membawa baskom yang dibungkus dengan taplak meja. Kami biasa menyebutnya ambengan.

Selepas sholat Magrib, ibu-ibu lainnya berdatangan. Ya. Malam ini kami akan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Atau orang Jawa menyebutnya Muludan atau Mauludan. Hanya beberapa bapak-bapak saja yang datang. Sedangkan mayoritas yang memenuhi mushola adalah ibu-ibu. Dari yang jamaah sholat sampai yang tidak pernah datang ke mushola. Berkumpul jadi satu ngalab berkah.
Maulid Nabi | Foto: Didik Setiawan
Bulan Maulud selalu identik dengan bacaan sholawat baik di mushola maupun masjid. Yang berbeda dari mushola kami adalah masalah mulainya kegiatan berjanji. Berjanji sebenarnya keseleo lidah dari kata barzanji. Di mushola atau masjid lainnya kegiatan berjanji mulai dilakukan dari tanggal 1 Maulud. Sedangkan di mushola kami, ini juga instruksi dari Pak Yahya selaku kyai mushola, berjanji dilakukan mulai tanggal 12 Maulud bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seperti biasa Pak Yahya memberikan ceramah tentang kelahiran rasulullah saw. Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya ingin menyerbu Ka'bah di Mekkah. Tetapi malah hancur lebur karena serangan burung Ababil yang membaca batu dari neraka. Saat itu pulalah nabi akhir zaman dilahirkan.

Dari tahun ke tahun jamaah laki-laki di mushola selalu sedikit. Padahal dulu sewaktu saya kecil jamaah perempuan yang sedikit. Mungkin benar adanya, bahwa jumlah perempuan itu lebih banyak dibandingkan laki-laki.

"Barangsopo sing gelem sodakohke dalam perayaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, meski kuwi mung sak jumput misale. Bakalan diganti segede gunung Ukud," kata Pak Yahya menutup sesi ceramahnya.

Kemudian para jamaah semua berdiri membaca srokolan. Sudah lama sekali saya absen dalam kegiatan berjanji. Ingatan saya kembali ke puluhan tahun ke belakang ketika selesai sholat magrib bersemangat memegang mik untuk berjanji. Sampai kadang suara habis dan serak karena begitu semangatnya. Itu semua akan terobati dengan jajanan atau penganan yang akan kita terima setelahnya. Sungguh sederhana bukan.

Malam ini, seolah saya dilempar kembali ke masa itu. Aku lengkingkan suara untuk membaca ayat srokolan. Serak dan fals tidak jadi soal. Toh ini bukan kontes nyanyi. Suara habis juga bukan masalah. Itu semua bisa diobati dengan lahap ambengan yang dibawa. Sekali lagi, masih sesederhana itu.

Selesai Pak Yahya membaca doa. Aamiin. Anak-anak dan ibu-ibu antusias membuka baskom yang dibawanya. Kebanyakan membawa nasi berserta lauk pauknya. Ada juga yang membawa jajanan pasar atau penganan buatan sendiri. Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu. Saling jumput atau ambil makanan milik lainnya yang dianggap enak. Bahkan tidak jarang sebelum berangkat sudah ditandai mana-mana yang bawa makanan enak. Padahal enak tidaknya itu bukan persoalan penting, kebersamaanlah yang membuat semuanya seolah nikmat.


Inilah yang sebenarnya dibutuhkan. Kebersamaan. Meskipun kebersamaan seperti ini tidak bisa selalu kita jumpai. Tetapi inilah rahmat bulan Maulud. Rahmat bulan kelahiran Rasulullah SAW. Dengan tanpa mendeskritkan bulan-bulan lainnya. Inilah yang sesungguhnya dirindui, dikangeni oleh manusia. Saling berkumpul.

Musik Segala Lapisan

Add Comment
Dwi Andri YatmoBicara musik dangdut tidak akan ada habisnya. Karena menurut Bang Haji Rhoma Irama, musik dangdut adalah musik asli Indonesia. Walau sebenarnya ada unsur-unsur dari luar. Tetapi entah mengapa musik dangdut masih dipandang sebelah mata. Ada lho orang yang tidak suka medengarkan musik dangdut.

"Ini musik apa? Ganti-ganti!" Ada yang kayak gitu.

Kita tahu bahwa itu hak setiap orang. Hak untuk menyukai genre musik tertentu. Dan itu tidak bisa kita paksa. Misal kita sudah dangdut, pacar kita juga harus suka dangdut. Bagaimana pun caranya. Seperti itu yang tidak diperbolehkan.
Suasana Dangdut Panggung | Foto : omclassic.com
Kalau kita tengok ke desa musik dangdut seolah mendapatkan tempat istimewa. Mungkin jika diadakan survei atau kuisioner tentang genre musik apa yang paling disukai. Dangdut menempati posisiii teratas. Dangdut seolah mewakili kehidupan orang bawah. Terlepas karena lirik-liriknya yang menceritakan kehidupan sehari-hari. Serta alunan musiknya yang rancak dan bisa membuat orang menggerakkan tubuhnya sekadar bergoyang.

Ibarat rantai makanan dalam pelajaran IPA sewaktu SMP, dangdut itu menempati posisi paling atas sendiri. Musik ini paling bisa menyesuaikan tren pasar. Paling dinamis daripada jenis musik-musik lainnya.

Lagu pop bisa dibawakan versi dangdut. Tapi belum tentu lagu dangdut bisa dibawakan ke versi pop.
Lagu jazz? Bisa.
Lagu rock? Itu apalagi, bisa.
Lagu hiphop? Kecil
Lagu reggae? Tidak masalah
Lha wong lagu sholawat saja bisa dibawakan ke versi dangdut.

Jadi jangan heran bahwa di desa-desa masih begitu kental dengan musik dangdut. Tengok saja setiap kali ada acara dangdut panggung dimana pun itu, pasti akan selalu ramai. Maka tidak heran Musik Orkestra tumbuh subur di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Sebut saja Sera, Monata, New Pallapa, Sagita dan masih banyak lagi.

Fans dari masing-masing musik orkestra tersebut juga bertebaran. Sebut saja Sera Mania, fansnya OM Sera.  Sahabat New Pallapa (SNP), fansnya OM New Pallapa. Kenapa mereka bisa eksis? Pertama karena musik dangdut musik yang menggembirakan. Musik yang bisa untuk berjoget bersama.
Kerusuhan yang terkadang tidak bisa dihindarkan | Foto : cinmi.com
Kedua, faktor dari para penyanyinya. Jangan heran kalau para penyanyi dangdut selain ditunjang suaranya yang aduhai enaknya. Juga ditunjang paras cantik dan tubuh yang sintal. Kalian pasti familiar dengan nama Via Vallen, Nella Karisma, Wiwik Sagita, dll. Mereka itu salah satu daya tarik para fans untuk selalu datang ketika manggung.

Toh banyak orang mencibir musik dangdut adlaah musik kampungan. Musik ndeso. Musik kelas bawah. Tapi bagi kami musik dangdut adalah anugerah yang tidak bernilai. Karena dari dangdut kita bisa memiliki pertemanan yang banyak. Kita bertemu dengan orang-orang baru. Terciptanya relasi atau jaringan pertemanan.

Tetapi sekali lagi, kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada oranglain. Kalau oranglain tidak suka dangdut, ya silakan. Asal jangan menjelek-jelekkan satu sama lain.


Salam dangdut!! Salam Puinuk